BI Beberkan Jurus Jaga Daya Beli di Tengah Dolar Rp17.800: Stabilisasi Rupiah Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia mengandalkan intervensi nilai tukar untuk menekan imported inflation akibat dolar AS yang menembus Rp17.800.
- Selain itu, BI mengaktifkan 46 kantor perwakilan sebagai advisor daerah guna menekan inflasi pangan yang fluktuatif.
- Langkah ini krusial mengingat tekanan harga impor dan pangan berpotensi menggerus daya beli masyarakat Indonesia.

Bank Indonesia (BI) akhirnya membuka strategi menghadapi tekanan imported inflation yang dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat hingga level Rp17.800. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilisasi rupiah menjadi senjata utama untuk meredam kenaikan harga barang impor yang berpotensi membebani konsumen dalam negeri.
Dalam forum Economic Update 2026 yang digelar CNBC Indonesia, Rabu (24/6/2026), Destry mengakui bahwa imported inflation menjadi salah satu variabel yang terus dipantau bank sentral. "Imported inflation itu tentunya menjadi konsideran kami. Inflasi ke depan memang salah satu yang kita lihat selain volatile food karena iklim," ujarnya. Menurut Destry, langkah yang bisa ditempuh adalah menjaga agar depresiasi rupiah tidak terlalu dalam, sehingga kenaikan harga barang impor tidak melonjak drastis.
Data terbaru menunjukkan nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh sikap hawkish Federal Reserve dan ketidakpastian geopolitik global. Kondisi ini membuat harga barang-barang impor—mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumen—berpotensi naik signifikan. Bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor untuk sejumlah komoditas, tekanan ini bisa berdampak langsung pada inflasi domestik dan daya beli masyarakat.
Selain imported inflation, Destry juga menyoroti fenomena harga pangan yang fluktuatif, di mana beberapa komoditas seperti cabai sempat melonjak hingga di atas harga daging. "Secara common sense, kok bisa harga cabai di atas daging, memang stoknya enggak ada? Atau bagaimana," katanya. Untuk mengatasi hal ini, BI tidak hanya mengandalkan instrumen moneter, tetapi juga turun langsung ke daerah melalui 46 kantor perwakilannya. Program ini melibatkan kerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga setempat untuk mengidentifikasi sumber inflasi dan memberikan solusi, seperti penerapan smart farming bagi petani atau pemberdayaan UMKM.
Bagi pelaku usaha dan investor, langkah BI ini memberikan sinyal bahwa bank sentral tidak tinggal diam menghadapi tekanan eksternal. Namun, efektivitas kebijakan stabilisasi rupiah sangat bergantung pada cadangan devisa yang dimiliki dan kesiapan BI melakukan intervensi di pasar valas. Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: seberapa lama BI mampu menahan laju depresiasi rupiah tanpa mengorbankan cadangan devisa secara berlebihan?



