Hugo Samir Tersingkir dari Persik: Regulasi Baru dan Ketatnya Persaingan di BRI Super League
Baca dalam 60 detik
- Persik Kediri melepas Hugo Samir menyusul penghapusan kuota pemain U-22 di BRI Super League musim depan.
- Pemain yang sempat digadang-gadang sebagai wonderkid ini hanya tampil sekali pada musim keduanya, kalah bersaing dengan pemain asing dan rekan setim.
- Pengamat sepak bola menilai keputusan ini wajar, namun yakin Hugo Samir akan segera mendapatkan klub baru.

Persik Kediri secara resmi tidak akan memperpanjang kontrak Hugo Samir untuk musim depan BRI Super League, menyusul penghapusan regulasi kuota pemain U-22 yang sebelumnya menjadi tiket masuknya. Keputusan ini menandai berakhirnya perjalanan singkat sang wonderkid di klub berjuluk Macan Putih tersebut.
Hugo Samir, putra dari pelatih legendaris Jacksen Tiago, sempat mencuri perhatian saat debut bersama Timnas Indonesia U-19 di usia 17 tahun. Penampilannya yang impresif di Piala Asia U-20 2023 membuat Persik merekrutnya pada musim 2024/2025 dengan kontrak profesional pertama. Namun, setelah tampil 20 kali di musim perdananya, menit bermainnya merosot drastis menjadi hanya satu pertandingan pada musim lalu.
Persaingan ketat di lini depan menjadi faktor utama. Pelatih Marcos Reina lebih memilih mengandalkan pemain asing seperti Ernesto Gomez dan Adrian Luna untuk meningkatkan daya gedor tim. Selain itu, munculnya pemain muda lain seperti Wigi Pratama dan Rendy Sanjaya yang tampil impresif semakin mempersempit ruang gerak Hugo Samir. Pada putaran kedua musim lalu, ia dipinjamkan ke Persiku di ajang Championship, di mana ia bermain sembilan kali dengan total 535 menit.
Penghapusan regulasi kuota pemain U-22 menjadi pukulan telak bagi pemain muda seperti Hugo Samir. Pengamat sepak bola, Toni Ho, menilai langkah ini tepat karena pemain berusia 22 tahun sudah bukan lagi kategori junior. "Pemain muda harus memiliki kualitas level tinggi jika ingin tampil di Super League. Borneo FC saja berani melepas Alfahrezzi Buffon yang notabene pemain Timnas Indonesia," ujarnya. Meski demikian, ia optimistis Hugo Samir akan segera diminati klub lain.
Kisah Hugo Samir menjadi cermin kerasnya persaingan di sepak bola profesional Indonesia. Regulasi yang berubah dan tuntutan prestasi membuat klub lebih memilih pemain matang ketimbang mengembangkan bakat muda. Pertanyaannya, akankah pemain muda seperti Hugo Samir mampu bangkit dan membuktikan diri di klub baru, atau tren ini akan menjadi preseden bagi wonderkid lainnya di masa depan?



