Harga Minyak Bumi Terus Merosot, Selat Hormuz Mulai Longgar
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI menyentuh level terendah sejak awal Maret setelah Amerika Serikat memberikan keringanan sanksi 60 hari kepada Iran dan ketegangan di Lebanon mereda.
- Tiga supertanker yang sempat terdampar berhasil melintasi Selat Hormuz, menandai awal pemulihan arus pengiriman minyak dari kawasan Teluk.
- Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran masih menyisakan ketidakpastian, terutama soal inspeksi nuklir dan kemungkinan Iran memungut biaya transit.

Harga minyak mentah dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu (24/6), melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sepekan terakhir dan mendekati titik terendah dalam empat bulan terakhir. Sentimen negatif muncul setelah sejumlah kapal tanker yang sebelumnya terjebak di perairan Teluk sejak dimulainya konflik Iran mulai menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan Selat Hormuz.
Brent crude tercatat turun 37 sen atau 0,5 persen menjadi 76,71 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 36 sen atau 0,5 persen ke level 72,85 dolar AS per barel. Kedua acuan harga minyak global itu sudah merosot hampir 1 persen pada Selasa (23/6) dan menyentuh level terendah sejak awal Maret lalu.
Tekanan terhadap harga minyak semakin kuat setelah Washington memberikan keringanan sanksi selama 60 hari kepada Teheran menyusul pembicaraan damai tahap awal. Selain itu, meredanya permusuhan di Lebanon turut meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
"Harga minyak mentah tertekan oleh harapan meredanya ketegangan AS-Iran dan pemulihan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz," ujar Tomomichi Akuta, ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting. Ia menambahkan bahwa kemajuan lebih lanjut dalam negosiasi nuklir berpotensi mendorong harga kembali ke level sebelum perang.
Pada Selasa lalu, Oman dan Iran sepakat untuk melanjutkan diskusi mengenai administrasi navigasi di Selat Hormuz di masa depan. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa setiap upaya Iran untuk memungut biaya transit akan melanggar hukum internasional. Ketidakpastian masih menyelimuti ketahanan kesepakatan tersebut. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran telah setuju untuk inspeksi nuklir tanpa batas waktu, sementara Teheran membantah telah memberikan konsesi semacam itu.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa tiga supertanker yang sebelumnya terdampar berhasil melewati selat tersebut pada Selasa. Badan pelayaran PBB menyatakan bahwa rencana evakuasi untuk memungkinkan ratusan kapal dengan 11.000 pelaut yang terjebak di Teluk untuk berlayar melalui selat itu sedang berjalan setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Sementara itu, stok minyak mentah AS turun 765.000 barel pada pekan yang berakhir 19 Juni, menurut data American Petroleum Institute. Sembilan analis yang disurvei Reuters memperkirakan rata-rata penurunan sekitar 4,5 juta barel.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak global ini memberikan angin segar bagi anggaran subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Namun, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi risiko yang harus diwaspadai, terutama jika negosiasi nuklir menemui jalan buntu dan kembali memicu konflik. Pertanyaannya, akankah tren penurunan harga ini bertahan seiring dengan potensi peningkatan pasokan dari kawasan Teluk, atau justru akan berbalik arah jika ketegangan kembali memanas?



