Misi Ancelotti: Akhir Puasa Gelar Brasil 24 Tahun di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Carlo Ancelotti memastikan Neymar siap tampil kontra Skotlandia setelah absen hampir tiga tahun dari timnas Brasil.
- Vinicius Junior menjadi motor serangan Brasil dengan dua gol di fase grup, termasuk penyama kedudukan melawan Maroko.
- Kemenangan di Piala Dunia 2026 akan memperkuat status Ancelotti sebagai pelatih terbaik sepanjang masa.

Pelatih Brasil, Carlo Ancelotti, menegaskan bahwa Neymar akan kembali memperkuat Selecao dalam laga penentu melawan Skotlandia di Piala Dunia 2026, setelah sang megabintang absen hampir tiga tahun karena cedera dan kontroversi. Kepulangan pemilik 79 gol untuk Brasil ini menjadi sorotan utama jelang pertandingan yang akan digelar di Miami, Rabu waktu setempat.
Ancelotti, yang mengambil alih timnas Brasil pada 2025, menghadapi tekanan besar untuk mengakhiri paceklik gelar Piala Dunia selama 24 tahun. Terakhir kali Brasil juara adalah pada 2002 di Korea-Jepang. Ironisnya, jeda panjang sebelumnya berakhir di Amerika Serikat pada 1994, saat Romario dan Bebeto membawa pulang trofi. Kini, dengan skuad bertabur bintang, ekspektasi publik Brasil kembali membubung tinggi.
Neymar, yang terakhir bermain untuk Brasil pada Oktober 2023, sempat menjadi perdebatan sengit setelah namanya tetap masuk skuad Piala Dunia menggantikan Joao Pedro dari Chelsea. Meski tidak dimainkan saat imbang 1-1 melawan Maroko di laga pembuka Grup C karena cedera, Ancelotti memastikan kondisi pemain 34 tahun itu sudah prima. "Dia berlatih keras pekan ini, siap bermain 90 menit penuh atau setengah babak. Sikapnya sangat positif," ujar Ancelotti dalam konferensi pers yang berlangsung larut malam di Miami.
Namun, jika Brasil ingin melaju jauh, sorotan justru tertuju pada Vinicius Junior. Penyerang Real Madrid itu menjadi penyelamat saat Brasil tertinggal 1-0 dari Maroko, mencetak gol penyeimbang yang brilian. Dua gol dalam dua pertandingan membuatnya menjadi katalis serangan Brasil. "Dia bermain sangat baik. Kami harus memaksimalkan potensinya meski ada pemain hebat lain," puji Ancelotti, yang pernah melatih Vinicius di Madrid.
Skotlandia, yang hanya melepaskan dua tembakan tepat sasaran dalam dua laga, dipandang bukan lawan sepadan. Namun, Ancelotti enggan meremehkan. "Skotlandia punya kualitas, mereka petarung, organisasi permainan bagus. Pemain seperti McTominay dan McGinn berpengalaman. Kami harus mengontrol permainan mereka yang suka umpan panjang dan crossing," analisisnya.
Bagi Ancelotti, membawa Brasil juara dunia akan menjadi mahkota karirnya. Pelatih asal Italia itu sudah memenangi lima Liga Champions—rekor terbanyak—dan satu-satunya pelatih yang juara di lima liga top Eropa. Namun, Piala Dunia adalah panggung berbeda. Pertanyaannya, mampukah ia menyatukan ego para superstar Brasil menjadi tim yang solid? Jawabannya akan mulai terlihat saat Brasil menghadapi Skotlandia.



