Kolam Refleksi Lincoln Memorial: Proyek Trump Rp300 Miliar Berujung Bencana
Baca dalam 60 detik
- Renovasi kolam bersejarah senilai US$14 juta gagal total, cat biru mengelupas dan alga kembali muncul dalam hitungan hari.
- Proyek tanpa lelang ini menjadi simbol kegagalan ambisi Trump dalam merombak wajah Washington tanpa mematuhi prosedur.
- Di tengah krisis ekonomi akibat perang dagang, publik mempertanyakan prioritas anggaran yang habis untuk proyek prestise.

Renovasi Kolam Refleksi Lincoln Memorial, salah satu ikon Washington D.C., yang menelan biaya US$14 juta atau sekitar Rp224 miliar justru berakhir memalukan. Dalam hitungan hari setelah selesai, lapisan cat biru "American Flag Blue" mengelupas dan alga kembali memenuhi permukaan air, memicu gelombang kritik di media sosial.
Presiden Donald Trump bersikeras bahwa kerusakan itu akibat ulah vandal. Namun, para ahli dan pengamat menilai kegagalan ini lebih disebabkan oleh pengerjaan yang asal-asalan dan kontrak tanpa tender yang diberikan kepada rekan dekat. Proyek yang ditargetkan rampung sebelum perayaan 250 tahun Amerika Serikat pada 4 Juli ini justru menjadi simbol ambisi Trump yang terbentur realitas.
Kolam refleksi sepanjang 610 meter yang membentang antara Washington Monument dan Lincoln Memorial itu bukan sekadar elemen lanskap. Tempat ini memiliki nilai historis yang mendalam, terutama setelah Martin Luther King Jr. menyampaikan pidato "I Have a Dream" di lokasi tersebut pada 1963. Bagi warga Amerika, kolam ini adalah ruang publik untuk merenung dan berkumpul, bukan sekadar properti yang bisa diperlakukan semena-mena.
Kegagalan ini bukan kasus terisolasi. Sejak menjabat periode kedua, Trump telah melancarkan sejumlah proyek renovasi besar-besaran di Washington yang kerap mengabaikan aturan dan masukan publik. Sayap Timur Gedung Putih dihancurkan untuk dibangun ballroom seharga US$400 juta, Taman Mawar Jacqueline Kennedy dibongkar diganti teras ala Mar-a-Lago, hingga pengambilalihan paksa John F. Kennedy Center for the Performing Arts yang sempat hendak diganti namanya menjadi Donald J. Trump and John F. Kennedy Center.
Kritikus menilai pola ini menunjukkan obsesi Trump terhadap estetika personal dan ketidakpedulian terhadap warisan budaya. "Ini bukan rumahnya, ini rumah rakyat," ujar Hillary Clinton menanggapi perombakan Gedung Putih. Sementara itu, rencana Trump membangun gapura kemenangan di Memorial Bridge yang terinspirasi Arc de Triomphe Paris juga menuai kontroversi karena dianggap tidak sesuai dengan kesakralan Arlington National Cemetery.
Bagi publik Indonesia, kisah ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola proyek publik yang transparan dan partisipatif. Di dalam negeri, kasus serupa sering terjadi ketika proyek infrastruktur atau revitalisasi cagar budaya dikerjakan secara terburu-buru tanpa kajian mendalam, berujung pada pemborosan anggaran dan kerusakan nilai sejarah. Contohnya adalah polemik renovasi kawasan Kota Tua Jakarta atau pembangunan monumen yang tidak sesuai dengan konteks budaya setempat.
"Setiap dolar yang dihabiskan untuk proyek prestise adalah dolar yang tidak digunakan untuk mengatasi krisis ekonomi atau memperbaiki layanan publik," kata seorang analis kebijakan publik yang enggan disebut namanya.
Ke depan, kegagalan Kolam Refleksi Lincoln Memorial berpotensi menjadi bumerang politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu. Pertanyaan yang mengemuka: akankah pemerintah AS belajar dari kesalahan ini, atau justru akan terus mengulang pola yang sama pada proyek-proyek berikutnya?



