Pencarian Akomodasi Thailand Didominasi Malaysia, China Melonjak ke Peringkat Ketiga
Baca dalam 60 detik
- Data Agoda menunjukkan Malaysia, Korea Selatan, dan China menjadi tiga besar pencari akomodasi Thailand pada semester pertama 2026.
- China mencatat lonjakan signifikan dengan kenaikan 38% year-on-year, naik dari posisi ketujuh ke ketiga.
- Thailand tidak bergantung pada satu pasar asal, melainkan menarik minat beragam wisatawan Asia dari berbagai segmen.

Thailand tetap menjadi salah satu destinasi wisata paling dicari di Asia pada paruh pertama 2026. Data dari platform perjalanan daring Agoda mengungkapkan bahwa Malaysia, Korea Selatan, dan China memimpin minat internasional terhadap akomodasi di Negeri Gajah Putih tersebut.
Agoda mendasarkan temuannya pada pencarian akomodasi yang dilakukan antara 1 Januari hingga 10 Juni 2026, untuk masa menginap dari 1 Januari hingga 30 Juni 2026. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025. Malaysia menempati peringkat pertama, disusul Korea Selatan, China, India, dan Jepang.
Pergerakan paling mencolok terjadi pada China. Negara dengan populasi terbesar di dunia itu melesat dari peringkat ketujuh pada 2025 menjadi ketiga pada 2026. Agoda mencatat pencarian dari China naik 38% secara tahunan, menandai pemulihan signifikan dari salah satu pasar terpenting Thailand. Lonjakan ini menunjukkan bahwa minat wisatawan China terhadap Thailand kembali menguat setelah masa lesu.
Selain lima besar, Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Indonesia juga masuk dalam sembilan pasar luar negeri utama yang mencari akomodasi Thailand. Pola ini menegaskan bahwa Thailand tidak bergantung pada satu kawasan sumber wisatawan. Negara ini terus menarik beragam pengunjung Asia yang mencari liburan kota, pantai, alam, dan perjalanan jarak pendek regional.
Di dalam Thailand, Bangkok, Pattaya, dan Phuket tetap menjadi tiga destinasi paling dicari di Agoda. Bangkok diuntungkan oleh perannya sebagai pintu gerbang utama Thailand dan destinasi perkotaan dengan belanja, kuliner, hiburan malam, serta atraksi budaya. Pattaya dan Phuket tetap menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan yang mencari laut, hiburan, dan liburan ala resor. Chiang Mai menempati peringkat keempat, menunjukkan bahwa Thailand utara terus menarik wisatawan yang tertarik pada budaya, alam, dan ritme perjalanan yang lebih lambat. Hua Hin dan Cha-am berada di peringkat kelima, didukung oleh daya tariknya sebagai destinasi tepi laut yang lebih tenang dan mudah dijangkau dari Bangkok.
Data Agoda juga menunjukkan meningkatnya minat terhadap rute alternatif dan destinasi berbasis alam. Khao Yai, Kanchanaburi, dan Nakhon Nayok masuk dalam 20 besar destinasi yang dicari, mengindikasikan bahwa wisatawan semakin melirik tempat-tempat di luar pusat kota dan pantai utama Thailand. Tren ini menunjuk pada permintaan yang tumbuh untuk perjalanan berbasis alam, pelarian singkat, dan destinasi yang menawarkan pemandangan luar ruangan, taman nasional, penginapan tepi sungai, serta suasana yang lebih santai.
Destinasi tepi laut tetap tampil kuat dalam peringkat. Krabi, Koh Samui, Koh Samet, dan Koh Tao semuanya mempertahankan posisi yang solid di antara destinasi yang dicari, menunjukkan bahwa daya tarik pesisir Thailand masih menjadi pusat merek pariwisatanya. Agoda menegaskan bahwa 20 besar destinasi mengonfirmasi Thailand terus menawarkan beragam pilihan untuk berbagai gaya perjalanan, mulai dari kota besar dan liburan pulau hingga retret pegunungan dan liburan berbasis alam.
Akaporn Rodkong, direktur negara Agoda untuk Thailand dan Indochina, mengatakan bahwa tren paruh pertama memperkuat pandangan perusahaan tentang peran regional Thailand. Menurutnya, keragaman wisatawan yang memilih Thailand adalah tanda destinasi yang terus tumbuh kuat dan berevolusi. Data juga menunjukkan pentingnya wisatawan regional bagi pemulihan pariwisata Thailand dan pertumbuhan jangka panjang, terutama karena pola perjalanan Asia menjadi lebih fleksibel dan digerakkan secara digital.
Bagi industri pariwisata Thailand, pesannya jelas: destinasi yang sudah dikenal tetap penting, tetapi tahap pertumbuhan berikutnya mungkin sama-sama bergantung pada seberapa baik negara ini mempromosikan rute yang kurang dikenal, atraksi alam, dan pengalaman perjalanan di luar tempat-tempat utama yang biasa. Pertanyaannya sekarang, apakah Thailand mampu mengelola keseimbangan antara destinasi mainstream dan emerging destination tanpa mengorbankan kualitas pengalaman wisatawan?



