Pemerintah Malaysia Pasang 3.000 Lampu Tenaga Surya di 32 Titik Rawan Kecelakaan Tol
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 3.000 lampu jalan bertenaga surya akan dipasang di 32 titik rawan kecelakaan di jalan tol Malaysia untuk meningkatkan keselamatan berkendara malam hari.
- Proyek senilai RM25,24 juta ini merupakan bagian dari program Pantau Madani yang didanai Anggaran 2026, dengan target penyelesaian akhir November.
- Pemilihan lokasi didasarkan pada skor bobot kecelakaan minimal 15 poin dalam sistem MHROADS, yang mengindikasikan risiko tinggi terutama saat malam dan cuaca buruk.

Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Pekerjaan Umum mengumumkan pemasangan 3.000 unit lampu jalan tenaga surya di 32 titik rawan kecelakaan di sejumlah ruas jalan tol utama. Langkah ini diambil untuk menekan angka fatalitas akibat minimnya penerangan di lokasi-lokasi yang kerap memakan korban jiwa, terutama pada malam hari dan saat cuaca buruk.
Menteri Pekerjaan Umum Datuk Seri Alexander Nanta Linggi mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program Pantau Madani yang bertujuan meningkatkan keselamatan jalan raya secara terukur. Tahap awal proyek telah mendapat persetujuan dana sebesar RM25,24 juta dari total alokasi RM30 juta yang diumumkan dalam Anggaran 2026. Sisa anggaran akan dialokasikan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan, dengan pemasangan lampu yang dilakukan secara tertarget berdasarkan penilaian risiko.
Proyek yang ditargetkan rampung pada akhir November ini akan mencakup ruas-ruas jalan tol utama seperti North-South Expressway, Seremban-Port Dickson Highway, Kuala Lumpur-Karak Expressway, serta East Coast Expressway fase 1 dan 2. Pemasangan lampu LED bertenaga surya ini diharapkan dapat meningkatkan visibilitas pengemudi dan mengurangi risiko kecelakaan fatal di titik-titik yang sebelumnya gelap.
Direktur Jenderal Otoritas Jalan Raya Malaysia (LLM) Datuk Mohd Hadzmir Yusoff menjelaskan bahwa 32 lokasi tersebut diidentifikasi melalui analisis data kecelakaan dan penilaian keselamatan jalan. Sistem Malaysia Highway Road Accident Database and Analysis System (MHROADS) digunakan untuk menentukan titik-titik dengan skor bobot kecelakaan 15 poin ke atas, yang diklasifikasikan sebagai blackspot. LLM juga melibatkan konsesi jalan tol dalam proses identifikasi untuk memastikan akurasi data.
Langkah Malaysia ini menjadi perhatian bagi Indonesia, mengingat kondisi jalan tol di Tanah Air juga menghadapi masalah serupa. Banyak ruas tol di Indonesia, terutama di luar Jawa, masih minim penerangan dan rawan kecelakaan malam hari. Program serupa dengan memanfaatkan energi surya bisa menjadi solusi yang relevan untuk meningkatkan keselamatan di jalan tol Indonesia, sekaligus mendukung transisi energi bersih. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PUPR dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dapat mempertimbangkan pendekatan berbasis data seperti MHROADS untuk memetakan titik rawan dan mengalokasikan anggaran secara lebih efektif.
Keberhasilan proyek Pantau Madani di Malaysia akan menjadi tolok ukur bagi negara-negara tetangga dalam mengadopsi teknologi pencahayaan jalan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Indonesia akan mengikuti jejak serupa untuk menekan angka kecelakaan di jalan tol yang masih tinggi?



