IHSG Merah, Asing Justru Borong Saham BBRI dan 9 Lainnya
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,25% pada Selasa (23/6/2026), namun investor asing justru mencatatkan pembelian bersih di pasar reguler sebesar Rp36,53 miliar.
- Sepuluh saham dengan net foreign buy terbesar dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), menandakan kepercayaan asing terhadap sektor perbankan di tengah tekanan pasar.
- Fenomena ini mengindikasikan strategi akumulasi asing pada saham-saham berkapitalisasi besar, yang bisa menjadi sinyal bagi investor domestik untuk mencermati momentum entry.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (23/6/2026), ditutup melemah 0,25% ke level 6.101,33. Namun di balik koreksi tersebut, investor asing justru menunjukkan aksi borong yang kontras, terutama pada saham-saham perbankan dan sektor unggulan lainnya.
Data perdagangan mencatat nilai transaksi mencapai Rp32,94 triliun dengan volume 41,54 miliar saham, menandakan aktivitas pasar yang masih ramai meskipun indeks berada di zona merah. Dari total saham yang diperdagangkan, 282 saham menguat, 373 melemah, dan 160 stagnan. Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp311,60 miliar di seluruh pasar, namun di pasar reguler justru terjadi pembelian bersih sebesar Rp36,53 miliar. Artinya, aksi jual asing lebih terkonsentrasi di pasar negosiasi dan tunai, sementara di pasar reguler mereka melakukan akumulasi.
Fenomena ini menarik karena biasanya saat IHSG melemah, asing cenderung melakukan aksi jual bersih. Namun kali ini, mereka justru memanfaatkan pelemahan untuk menambah portofolio. Menurut data dari Stockbit, sepuluh saham dengan net foreign buy terbesar pada perdagangan Selasa didominasi oleh emiten perbankan dan konsumer. Posisi puncak ditempati oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang diborong asing dengan nilai bersih Rp... (data tidak tersedia dalam sumber).
Konteks domestik, aksi borong asing di tengah pelemahan IHSG bisa diartikan sebagai sinyal bahwa investor global masih melihat prospek positif pada fundamental emiten Indonesia, terutama perbankan yang diuntungkan oleh suku bunga tinggi dan pertumbuhan kredit. Bagi investor ritel, pola ini kerap menjadi indikasi bahwa koreksi saat ini bersifat sementara dan bisa menjadi peluang akumulasi. Namun, perlu diwaspadai bahwa volatilitas masih tinggi, terutama menjelang rilis data ekonomi global dan domestik.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed dan harga komoditas. Jika asing terus melakukan akumulasi di saham-saham berkapitalisasi besar, bukan tidak mungkin IHSG akan kembali menguat dalam jangka pendek. Pertanyaan yang muncul: apakah ini awal dari pembalikan arah, atau sekadar strategi jangka pendek asing yang akan segera diikuti aksi ambil untung?



