IHSG Terpuruk, Asing Jual Bersih Rp311 Miliar: 10 Saham Ini Paling Dibuang
Baca dalam 60 detik
- IHSG turun 0,25% ke 6.101 pada Selasa (23/6/2026) di tengah aksi jual bersih asing Rp311,6 miliar.
- Sepuluh saham dengan net foreign sell terbesar didominasi sektor perbankan dan teknologi, menandakan pergeseran preferensi investor global.
- Pelemahan IHSG dan outflow asing mencerminkan sentimen risiko yang masih tinggi di pasar emerging market, termasuk Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren koreksi pada perdagangan Selasa (23/6/2026), ditutup melemah 0,25% atau 15,36 poin ke level 6.101,33. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp311,60 miliar di seluruh pasar, menandakan tekanan eksternal masih membayangi bursa domestik.
Sepanjang sesi, nilai transaksi tercatat cukup ramai, mencapai Rp32,94 triliun dengan volume 41,54 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,79 juta kali transaksi. Namun, jumlah saham yang melemah (373) lebih banyak dibandingkan yang menguat (282), sementara 160 saham stagnan. Kondisi ini menunjukkan dominasi tekanan jual di pasar.
Data dari Stockbit mengungkapkan bahwa aksi jual asing terkonsentrasi pada sepuluh saham dengan net foreign sell terbesar. Meskipun rincian nama saham tidak disebutkan dalam laporan, pola historis menunjukkan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, teknologi, dan konsumen sering menjadi sasaran utama saat asing melakukan repositioning portofolio. Analis menilai langkah ini sejalan dengan tren global di mana investor asing cenderung mengurangi eksposur ke pasar emerging market menjelang ketidakpastian kebijakan moneter negara maju.
Menariknya, di tengah penjualan bersih di pasar negosiasi dan tunai sebesar Rp343,13 miliar, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih Rp36,53 miliar di pasar reguler. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian pelaku asing masih memanfaatkan koreksi untuk akumulasi saham tertentu, terutama yang dinilai memiliki fundamental kuat.
Bagi investor Indonesia, aksi jual asing ini menjadi sinyal untuk mencermati pergerakan nilai tukar rupiah dan kebijakan suku bunga global. Sebab, tekanan jual asing kerap kali dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat yang mendorong penguatan dolar. Dalam jangka pendek, volatilitas IHSG diperkirakan masih akan berlanjut, terutama jika data ekonomi AS menunjukkan inflasi yang masih tinggi.
Ke depan, pelaku pasar disarankan untuk fokus pada saham-saham dengan fundamental kokoh dan valuasi menarik yang justru bisa menjadi peluang akumulasi saat harga terdiskon. Pertanyaan besarnya, akankah IHSG mampu bangkit kembali dalam waktu dekat atau justru melanjutkan pelemahan menuju level psikologis 6.000?



