Anthropic Suntikkan AI ke Slack: Claude Tag Bisa Dipanggil Seperti Rekan Kerja
Baca dalam 60 detik
- Anthropic meluncurkan Claude Tag, agen AI yang bisa diundang ke dalam thread Slack untuk membaca percakapan, memecah tugas, dan memberi notifikasi proaktif.
- Langkah ini memperkuat posisi Anthropic di pasar enterprise, dengan valuasi mencapai $965 miliar, melampaui OpenAI, dan persiapan IPO.
- Fitur ini akan diperluas ke platform lain dalam beberapa pekan, membuka peluang bagi perusahaan di Indonesia untuk mengadopsi AI kolaboratif.

Anthropic, perusahaan rintisan kecerdasan buatan yang kini bernilai hampir satu triliun dolar, resmi meluncurkan agen AI bernama Claude Tag di dalam aplikasi Slack milik Salesforce, Selasa (23/6). Fitur ini memungkinkan karyawan memanggil asisten virtual hanya dengan mengetik "@Claude" di thread grup, sebuah terobosan yang mengubah cara tim berkolaborasi secara digital.
Claude Tag tidak sekadar menjawab pertanyaan. Agen ini bisa membaca seluruh percakapan dalam kanal, memecah tugas kompleks, dan secara proaktif menandai informasi penting yang relevan bagi organisasi—tanpa perlu diminta. Yang membedakan dari asisten AI sebelumnya adalah kemampuannya mempertahankan konteks dari waktu ke waktu, sehingga interaksi terasa lebih natural dan berkesinambungan.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Anthropic untuk menguasai pasar enterprise, yang belakangan menjadi medan pertempuran utama bagi startup AI. Valuasi perusahaan yang mencapai $965 miliar—melebihi OpenAI—menunjukkan kepercayaan investor terhadap model bisnis mereka. Tak heran, Anthropic juga telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia awal bulan ini.
Rob Seaman, General Manager Slack, menyebut inovasi ini sebagai "membuat AI menjadi multipemain. Bukan lagi percakapan pribadi, Claude Tag hadir di ruang terbuka." Sementara Cat Wu, Head of Product untuk Claude Code di Anthropic, menambahkan bahwa kemampuan dasarnya sebenarnya sudah ada, tetapi format "tag" seperti rekan kerja membuatnya jauh lebih kuat. Wu sendiri memberi contoh: ia memberikan akses Claude Tag ke Gmail-nya untuk membaca pesan, lalu memposting notifikasi penting langsung ke Slack—tempat ia lebih responsif.
Bagi Indonesia, kehadiran Claude Tag membuka peluang baru dalam adopsi AI di sektor korporasi. Banyak perusahaan di Tanah Air telah menggunakan Slack sebagai alat komunikasi internal, terutama di startup dan perusahaan teknologi. Integrasi AI semacam ini bisa membantu tim yang tersebar secara geografis untuk tetap sinkron tanpa harus mengadakan rapat berlebihan. Namun, isu keamanan data dan kepatuhan terhadap regulasi seperti UU PDP tetap menjadi perhatian, mengingat agen AI akan membaca percakapan internal yang sensitif.
Anthropic berencana memperluas Claude Tag ke platform lain dalam beberapa pekan mendatang. Jika berhasil, model interaksi "tag AI" ini bisa menjadi standar baru di dunia kerja—mengubah asisten virtual dari sekadar alat tanya-jawab menjadi anggota tim yang selalu siap sedia. Pertanyaannya, seberapa cepat perusahaan di Indonesia akan mengadopsi teknologi ini, dan apakah regulasi lokal siap mengakomodasi kehadiran agen AI yang "mengintip" percakapan karyawan?



