Airbus dan Kawasaki Heavy Jajaki Pengembangan Varian Jepang untuk Eurodrone
Baca dalam 60 detik
- Airbus meneken nota kesepahaman dengan Kawasaki Heavy Industries untuk merancang varian drone pertahanan Eropa yang disesuaikan dengan kebutuhan Jepang.
- Varian tersebut difokuskan pada misi antikapal selam maritim, memanfaatkan platform Eurodrone U950 yang mampu terbang hingga 40 jam.
- Kolaborasi ini menandai pertama kalinya perusahaan Jepang bermitra dengan asing dalam pengembangan drone militer, membuka peluang bagi industri pertahanan Indonesia untuk menjajaki kerja sama serupa.

Airbus, raksasa kedirgantaraan Eropa, resmi menjalin kerja sama awal dengan Kawasaki Heavy Industries asal Jepang untuk mengembangkan varian khusus dari pesawat nirawak (drone) pertahanan Eurodrone. Kesepakatan yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) ini membuka jalan bagi Jepang untuk memiliki kemampuan maritim antikapal selam berbasis drone, sebuah langkah yang dinilai strategis di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Menurut laporan Nikkei, ini adalah pertama kalinya perusahaan industri berat Jepang menggandeng mitra asing dalam pengembangan drone militer. Jepang sendiri telah menyandang status pengamat dalam program Eurodrone sejak 2023. Kerja sama ini mencakup desain, pengembangan, hingga komersialisasi varian yang disesuaikan dengan kebutuhan Jepang, termasuk integrasi sensor dan sistem persenjataan buatan dalam negeri.
Eurodrone U950, yang digadang-gadang sebagai pesaing langsung drone Reaper buatan Amerika Serikat, merupakan sistem nirawak berukuran besar yang dirancang untuk misi pengintaian dan serangan jarak jauh. Dengan kemampuan stay airborne hingga 40 jam, platform ini menawarkan fleksibilitas operasional yang tinggi. Namun, program ini sempat mengalami penundaan, sehingga kerja sama dengan Jepang diharapkan dapat mempercepat pengembangan dan memperluas pasar.
Bagi Indonesia, langkah Airbus dan Kawasaki Heavy ini menjadi sinyal bahwa industri pertahanan dalam negeri perlu mulai melirik kemitraan strategis serupa. Meskipun belum ada keterlibatan langsung, pengalaman Jepang dalam mengadaptasi teknologi asing untuk kebutuhan lokal bisa menjadi model bagi Indonesia yang tengah mengembangkan ekosistem drone militer. Apalagi, Indonesia memiliki wilayah maritim yang luas dan membutuhkan kemampuan pengawasan laut yang andal.
Para analis menilai bahwa kerja sama ini juga mencerminkan pergeseran peta industri pertahanan global, di mana negara-negara Asia mulai mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok dan pengembangan teknologi. Jika berhasil, varian Jepang dari Eurodrone bisa menjadi produk andalan untuk misi antikapal selam di kawasan, sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara lain yang memiliki kebutuhan serupa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana Jepang akan mengintegrasikan teknologi lokal ke dalam platform Eurodrone, dan apakah langkah ini akan diikuti oleh negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia, untuk menjajaki kerja sama serupa dengan raksasa pertahanan Eropa.



