Zoey Deutch Akhirnya Mau Bintangi Romcom Lagi: Bukan Sekadar Cinta, Tapi Duka dan Persaudaraan
Baca dalam 60 detik
- Zoey Deutch mengaku sempat ragu menerima tawaran film romcom, tetapi naskah 'Voicemails for Isabelle' yang mengangkat tema kehilangan dan ikatan saudara berhasil meyakinkannya.
- Aktris 31 tahun itu menyebut film Netflix ini sebagai titik balik kariernya, menandai era baru yang lebih tenang dan fokus setelah bertahun-tahun bergelut dengan kecemasan.
- Keputusan Deutch mencerminkan tren industri hiburan global yang mulai melirik cerita romantis dengan bobot emosional lebih dalam, relevan dengan selera penonton Indonesia yang haus tontonan bermakna.

Setelah hampir satu dekade menjauh dari genre komedi romantis, Zoey Deutch akhirnya kembali dengan alasan yang tak biasa: bukan sekadar kisah cinta, melainkan eksplorasi duka dan ikatan antarsaudara. Bintang film Set It Up (2018) itu mengaku sempat sangat enggan menerima tawaran film romcom, namun naskah Voicemails for Isabelle berhasil mengubah pikirannya.
Dalam wawancara dengan People, Deutch mengungkapkan bahwa dirinya selama bertahun-tahun menolak proyek-proyek bergenre serupa karena merasa dangkal. Namun, Voicemails for Isabelle—yang tayang di Netflix—menawarkan dimensi berbeda: mengisahkan seorang calon pembuat roti yang berjuang menghadapi kehilangan setelah kematian saudara perempuannya. “Saya sangat ragu untuk membuat film genre ini lagi,” ujar Deutch. “Tapi yang satu ini terasa dalam, tentang duka, cinta setelah kehilangan, dan tentang saudara.”
Ketertarikan Deutch pada elemen persaudaraan menjadi faktor penentu. Ia mengaku langsung jatuh cinta pada “kisah cinta saudara” yang diangkat dalam film tersebut. “Adik perempuan saya adalah orang favorit saya di dunia, sahabat terbaik saya. Naskah ini benar-benar menyentuh hati saya,” katanya. Menurut Deutch, film ini lucu dan romantis, tetapi juga sangat dalam dan memilukan.
Keputusan Deutch untuk kembali ke romcom juga menandai perubahan pribadi yang signifikan. Ia merasa telah memasuki “babak kedua” atau era baru dalam kariernya. “Saya tidak lagi berusia 22 tahun. Saya merasa lebih selaras, lebih membumi, dan jauh lebih tidak cemas,” ungkapnya. Ini adalah pernyataan yang mengejutkan mengingat Deutch selama ini dikenal sebagai pribadi yang sangat cemas. “Sebagian besar hidup saya, saya hanya mengidentifikasi diri sebagai orang yang sangat cemas. Sekarang saya merasa sangat berbeda,” tambahnya.
Sebelumnya, pada awal tahun ini, Deutch juga membintangi film komedi Gail Daughtry and the Celebrity Sex Pass bersama Jon Hamm, John Slattery, dan Sabrina Impacciatore. Ia menyebut naskah film tersebut sebagai “hal paling lucu yang pernah saya baca” dan mengaku tidak ragu untuk bergabung. “Mengapa saya tidak ingin menjadi bagian dari film yang luar biasa, konyol, dan menakjubkan ini?” katanya kepada Deadline.
Fenomena kembalinya aktor papan atas ke genre romcom dengan bobot emosional yang lebih berat juga menarik dicermati di Indonesia. Penonton Tanah Air, yang selama ini akrab dengan drama keluarga dan kisah persaudaraan, mungkin akan menyambut hangat Voicemails for Isabelle. Tren ini menunjukkan bahwa industri hiburan global mulai merespons permintaan akan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh isu-isu personal seperti duka dan penyembuhan.
Dengan perpaduan antara humor, romantisme, dan kedalaman emosi, Voicemails for Isabelle berpotensi menjadi angin segar bagi genre yang kerap dianggap ringan. Pertanyaannya, akankah film ini mampu mengubah stigma bahwa romcom hanya sekadar pelarian tanpa makna? Atau justru akan membuka jalan bagi lebih banyak cerita serupa di masa depan?



