Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa: Suhu Tembus 40,9°C, 55 Orang Tewas dalam Sehari di Paris
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas terburuk dalam sejarah Eropa memicu suhu 40,9°C di Paris dan memaksa penutupan sekolah serta pembatalan acara massal di beberapa negara.
- Para ilmuwan menyatakan peristiwa ini mustahil terjadi tanpa perubahan iklim, dengan suhu malam hari menjadi 100 kali lebih mungkin dibanding dua dekade lalu.
- Rendahnya kepemilikan AC di Eropa (hanya 20%) memperparah dampak, sementara Indonesia sebagai negara tropis dapat belajar dari kesiapsiagaan darurat panas ekstrem.

Gelombang panas ekstrem yang menerjang Eropa sejak 20 Juni lalu telah menimbulkan dampak mematikan, dengan suhu mencapai rekor 40,9 derajat Celcius di Paris dan menyebabkan sedikitnya 55 kematian dalam 24 jam di ibu kota Prancis. Otoritas kesehatan di seluruh benua meningkatkan kewaspadaan, sementara infrastruktur publik mulai runtuh akibat suhu yang melampaui batas normal.
Fenomena cuaca ekstrem ini, yang oleh para ahli disebut sebagai yang terparah dalam sejarah Eropa, dipicu oleh pola atmosfer yang dikenal sebagai Omega block. Pola ini menjebak massa udara panas di suatu wilayah dalam waktu lama, mendorong suhu hingga 18 derajat di atas rata-rata musiman. Di Inggris, rekor suhu tertinggi bulan Juni dipecahkan tiga hari berturut-turut, memicu perpanjangan peringatan merah oleh Met Office hingga hari ketiga. Sekolah-sekolah di selatan dan timur Inggris ditutup, sementara layanan darurat London mencatat lonjakan panggilan bantuan hingga 50 persen.
Di Jerman, permukaan jalan tol A2 melengkung dan retak akibat panas ekstrem, sementara perusahaan kereta api Austria memperingatkan rel dapat bengkok dalam beberapa hari ke depan. Belanda mengeluarkan peringatan merah untuk hampir seluruh wilayahnya, dengan suhu diperkirakan mencapai 40 derajat. Di Prancis, polisi Paris meminta penyelenggara acara besar seperti festival musik Solidays dan parade Pride untuk ditunda atau dibatalkan. Perusahaan listrik negara EDF mengalokasikan dana 80 juta euro untuk sistem pendingin di sekolah dan pusat penitipan anak.
Dampak terhadap sektor kesehatan sangat terasa. Hilary Williams, wakil presiden klinis Royal College of Physicians Inggris, menyatakan bahwa rumah sakit kewalahan menangani pasien dan peralatan vital seperti pemindai MRI serta mesin terapi kanker terganggu akibat panas. Di Prancis, Patrick Pelloux, dokter layanan darurat Paris, mengonfirmasi lonjakan kematian yang luar biasa: "55 kematian dalam sehari sangat besar. Biasanya hanya tiga atau empat. Ini jelas kematian berlebih akibat gelombang panas."
Para ilmuwan dari kelompok World Weather Attribution menegaskan bahwa gelombang panas ini mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Suhu malam hari yang menyengat kini 100 kali lebih mungkin terjadi dibanding dua dekade lalu. "Di wilayah yang diteliti, gelombang panas ini adalah yang paling parah yang pernah tercatat," demikian pernyataan mereka. Gelombang panas yang bergerak dari Semenanjung Iberia ini diperkirakan akan bergeser ke Eropa tengah dan Balkan pada akhir bulan, menurut Organisasi Meteorologi Dunia.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Meskipun Indonesia terbiasa dengan suhu tropis, infrastruktur dan sistem kesehatan tetap perlu diuji untuk menghadapi lonjakan permintaan listrik dan perawatan darurat. Dengan kepemilikan AC yang rendah di Eropa, negara-negara maju pun ternyata rentan. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia, dengan populasi besar dan kerentanan iklim, sudah memiliki rencana adaptasi yang memadai untuk menghadapi skenario serupa?



