Menguak Rahasia 'Totonou': Ilmuwan Jepang Cari Penjelasan Ilmiah di Balik Euforia Sauna
Baca dalam 60 detik
- Fenomena 'totonou'—sensasi relaksasi total setelah sauna—kini diteliti secara ilmiah oleh universitas di Jepang untuk memahami mekanisme fisiologisnya.
- Peneliti mengukur gula darah dan detak jantung untuk membuktikan bahwa pergantian antara sauna panas dan mandi air dingin memicu sistem saraf otonom.
- Riset juga mengembangkan alat wearable tahan panas untuk memantau tekanan darah dan suhu tubuh, guna mencegah risiko heat shock saat bersauna.

Fenomena 'totonou'—istilah Jepang untuk euforia dan kejernihan mental setelah bersauna—kini menjadi objek penelitian ilmiah serius. Para ilmuwan di Tokyo berupaya mengungkap reaksi fisiologis yang terjadi saat seseorang bergantian menikmati panas sauna, rendaman air dingin, dan istirahat di udara terbuka. Tak hanya itu, mereka juga mengembangkan alat untuk meminimalkan risiko kesehatan yang mengintai di balik sensasi yang digemari banyak orang ini.
Pada akhir Januari lalu, profesor Kota Kodama dari Universitas Hoshi di Tokyo menjalani eksperimen di sebuah sauna di distrik Shibuya. Dengan sensor gula darah dan monitor detak jantung terpasang di tubuhnya, Kodama—yang mengaku sebagai penggemar sauna—menghabiskan 10 menit di ruang panas, lalu tiga menit di bak air dingin, dan lima menit beristirahat. Siklus itu diulang empat kali. Tujuannya: mengukur perubahan kadar gula darah dan detak jantung yang diduga menjadi kunci sensasi 'totonou'.
Studi skala kecil sebelumnya menunjukkan bahwa kadar gula darah meningkat saat berada di sauna panas, lalu turun setelah istirahat pasca-mandi air dingin. Para peneliti menduga perubahan ini terkait dengan sistem saraf otonom. Paparan sauna dan air dingin dipercaya mengaktifkan sistem saraf simpatis—yang membuat tubuh bersemangat dan menaikkan gula darah. Sebaliknya, saat istirahat, sistem saraf parasimpatis—yang memicu relaksasi—lebih dominan, sehingga gula darah menurun. Jika 'totonou' memang lahir dari peralihan dari kondisi tegang ke rileks, Kodama yakin kondisi itu bisa diidentifikasi secara ilmiah melalui fluktuasi detak jantung dan gula darah.
Namun, di balik sensasi yang dicari, kontras tajam antara sauna panas dan air dingin menyimpan risiko. Associate professor Takuma Kogawa dari Institut Teknologi Shibaura memperingatkan bahwa perubahan tekanan darah yang mendadak dapat menyebabkan heat shock, yang berujung pada pingsan atau infark miokard. Untuk mengantisipasi hal itu, timnya mengembangkan metode prediksi tekanan darah menggunakan perangkat wearable tahan panas mirip smartwatch. Alat ini diharapkan mampu memantau suhu kulit dan memperkirakan suhu inti tubuh serta tekanan darah secara real-time.
Bagi penggemar sauna di Indonesia, temuan ini memiliki relevansi tersendiri. Meski tradisi sauna belum sepopuler di Jepang, tren pusat kebugaran dan spa yang menawarkan terapi panas-dingin mulai menjamur di kota-kota besar. Tanpa pemahaman fisiologis yang memadai, risiko kesehatan seperti dehidrasi atau pingsan bisa mengintai. Riset Jepang ini membuka peluang bagi pengelola tempat sauna di Indonesia untuk mengadopsi standar keselamatan berbasis data, misalnya dengan menyediakan alat pemantau suhu tubuh atau tekanan darah bagi pengunjung.
Ke depan, para peneliti berencana mengumpulkan data dari partisipan lintas usia dan tipe tubuh untuk menyempurnakan sistem peringatan dini. Jika berhasil, perangkat wearable ini bisa menjadi solusi bagi siapa pun yang ingin menikmati sauna tanpa khawatir akan risiko kesehatan. Pertanyaannya, akankah teknologi ini segera tersedia secara komersial, atau justru memicu perdebatan baru tentang batas aman dalam bersauna?



