Gelombang Panas Eropa Tewaskan 40 Orang di Prancis, Suhu Capai 44,3 Derajat
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, dengan Prancis mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah 44,3°C dan 40 orang tewas tenggelam saat berusaha mendinginkan diri.
- Fenomena Omega block memerangkap udara panas, memicu peringatan merah di 58 departemen Prancis dan mengganggu transportasi, sekolah, serta tempat wisata di sejumlah negara.
- Eropa memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global, meningkatkan frekuensi gelombang panas yang berpotensi memicu krisis kesehatan dan pangan.

Gelombang panas yang menyapu sebagian besar Eropa dalam sepekan terakhir telah merenggut 40 nyawa di Prancis akibat tenggelam, saat warga berupaya mendinginkan diri di kanal dan sungai. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menyebut kejadian ini sebagai "momok menyedihkan" dan mengonfirmasi sebagian besar korban adalah anak muda, dalam pernyataan sebelum rapat darurat penanganan cuaca ekstrem, Selasa (22/6).
Prancis mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pada hari yang sama, mencapai 44,3 derajat Celsius di sebuah kota di barat daya. Badan meteorologi Meteo France menyebut kondisi saat ini sebanding dengan gelombang panas Agustus 2003 yang berlangsung 16 hari dan menyebabkan sekitar 80.000 kematian berlebih di Eropa. Sebanyak 54 departemen telah berada dalam status siaga merah, dan jumlah itu diperkirakan naik menjadi 58 pada Rabu (23/6).
Fenomena cuaca yang dikenal sebagai Omega block—dinamai karena bentuknya menyerupai huruf Yunani Omega—menjadi penyebab utama. Pola ini memerangkap gelembung udara panas di antara sistem tekanan rendah, sehingga suhu terus meningkat dari hari ke hari. Organisasi Meteorologi Dunia mencatat bahwa Eropa memanas lebih dari dua kali lipat rata-rata global, membuat gelombang panas berkepanjangan semakin mungkin terjadi.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan di Prancis. Italia mengeluarkan peringatan level tertinggi untuk 15 kota dan membatasi aktivitas kerja di sektor tertentu. Inggris memperkirakan suhu mencapai 37°C di selatan—berpotensi memecahkan rekor Juni—dan puluhan sekolah memutuskan pulang lebih awal. Spanyol mengeluarkan peringatan merah di sejumlah wilayah dengan suhu diperkirakan mencapai 44°C, sementara beberapa kota membatalkan tradisi api unggun karena risiko kebakaran hutan.
Di Belgia, sebuah sekolah dasar di dekat Brussel memindahkan ujian akhir ke gereja terdekat karena suhu di dalam kelas terlalu panas. Swiss membatasi pengambilan air dari sungai dan danau di kanton St. Gallen akibat rendahnya permukaan air. Sementara itu, permintaan kipas angin dan pendingin ruangan melonjak drastis. Di Paris, seorang pembuat film bernama Victoria Yakubov mengaku berlari ke toko tanpa sempat minum kopi pagi dan berhasil mendapatkan kipas terakhir yang tersisa. "Semua habis dalam waktu kurang dari 30 menit," katanya. Hal serupa terjadi di London, di mana manajer cabang John Lewis Oxford Street, Paul Marsden, mengatakan kipas angin "ludes terjual".
Gelombang panas ini juga memicu tren "coolcation"—wisatawan Eropa beralih ke destinasi utara yang lebih sejuk. Seorang turis Jerman, Katharina Rexing, mengaku membatalkan rencana liburan ke Kroasia dan memilih Swedia karena suhu di Stockholm hanya 22°C, sementara Zagreb mencapai 30°C. Menara Eiffel di Paris terpaksa tutup lebih awal pada pukul 16.00 waktu setempat karena cuaca ekstrem.
Bagi Indonesia, gelombang panas Eropa menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim yang nyata. Meski Indonesia tidak mengalami suhu ekstrem seperti di Eropa, pola cuaca global yang semakin tidak menentu berpotensi memengaruhi musim tanam dan ketahanan pangan. Kenaikan suhu laut juga meningkatkan risiko cuaca ekstrem di kawasan tropis. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang seperti Indonesia sudah cukup siap menghadapi skenario terburuk perubahan iklim yang diprediksi akan semakin sering terjadi?



