Banjir Dua Hari Berturut-turut, Wali Kota Surabaya Minta Maaf dan Buka Suara soal Proyek Drainase
Baca dalam 60 detik
- Eri Cahyadi menyampaikan permintaan maaf resmi setelah hujan deras di luar musim menyebabkan genangan di puluhan titik selama 22-23 Juni 2026.
- Pengerjaan normalisasi saluran dan pemasangan box culvert disebut menjadi faktor penghambat aliran air, namun pemerintah memilih melanjutkan proyek demi kepentingan jangka panjang.
- Pasang air laut dan fenomena backwater memperparah kondisi, memaksa pemkot mengoptimalkan boezem serta lahan tampungan sebagai solusi sementara.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada warga setelah hujan deras yang mengguyur sejak Senin (22/6) hingga Selasa (23/6) menyebabkan banjir dan genangan di sejumlah kawasan Kota Pahlawan. Dalam pernyataan resminya, ia mengakui bahwa intensitas curah hujan yang tinggi di luar musim kemarau menjadi pemicu utama, namun faktor lain seperti proyek infrastruktur drainase yang tengah berjalan ikut memperparah kondisi.
Eri menjelaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan 21 unit mobil pemadam kebakaran dan sekitar 10 kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup serta perangkat daerah terkait sejak pukul 02.30 WIB untuk melakukan penyedotan air di titik-titik rawan genangan. Meski demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi volume air yang menggenang, terutama di lokasi-lokasi yang terdampak pekerjaan pengerukan saluran, pemasangan box culvert, dan perbaikan rumah pompa di Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, Imam Bonjol, hingga Rungkut.
Menurut Eri, pilihan untuk melanjutkan proyek drainase di tengah musim hujan merupakan keputusan sulit. "Kami dihadapkan pada dua opsi: menghentikan proyek atau tetap melanjutkan untuk kepentingan jangka panjang. Kami memilih tetap berjalan sambil memaksimalkan penanganan di lapangan," ujarnya. Pemerintah kota menegaskan bahwa proyek tersebut bukan mangkrak, melainkan bagian dari pembangunan infrastruktur pengendalian banjir yang membutuhkan waktu beberapa bulan untuk penyelesaian.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Adi Gunita, menambahkan bahwa kondisi pasang air laut sejak dini hari turut memperberat penanganan. Fenomena backwater atau aliran balik terjadi di kawasan Tanjungsari, Tambak Mayor, Greges, dan Petekan, dengan elevasi air yang sebelumnya hampir mencapai 200 sentimeter kini berangsur turun ke kisaran 170-180 sentimeter. Akibatnya, kinerja rumah pompa belum maksimal karena air yang telah dipompa kembali terdorong ke daratan.
Sebagai langkah antisipasi, pemkot mengoptimalkan fungsi boezem atau kolam tampungan sementara sebagai penyangga debit air sebelum dialirkan kembali saat kondisi memungkinkan. Sejumlah lahan juga dialihfungsikan sebagai tampungan tambahan untuk mengurangi beban saluran utama. Hingga Selasa pagi, beberapa titik banjir mulai surut, meski proses penanganan masih berlangsung di area yang terdampak kerusakan dinding penahan sungai.
Eri memastikan seluruh tim tetap siaga hingga kondisi benar-benar normal. Ia juga menargetkan seluruh proyek drainase dan perbaikan rumah pompa rampung sebelum puncak musim hujan pada November-Desember 2026. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah percepatan infrastruktur ini cukup untuk mencegah terulangnya banjir serupa di masa depan, atau justru akan kembali menjadi dilema saat hujan deras melanda lagi?



