Greta Lee: New York Membentuk Saya Menjadi Diri yang Lebih Dewasa
Baca dalam 60 detik
- Aktris Greta Lee mengungkapkan bahwa dua dekade di New York membentuk kepribadiannya hingga menjadi 'versi dewasa' dari dirinya.
- Meski sukses di film besar, Lee merasa asing di industri hiburan dan menganggap film independen sangat penting untuk dipertahankan.
- Lee mengkhawatirkan masa depan bioskop jika film-film kecil seperti 'Late Fame' tidak lagi mendapat dukungan.

Dua dekade hidup di New York telah mengubah aktris Greta Lee menjadi pribadi yang lebih matang. Dalam wawancara dengan majalah Interview, perempuan 43 tahun itu mengaku kota tersebut memainkan peran besar dalam membentuk jati dirinya, terutama setelah ia pindah dari Illinois pada usia 21 tahun pada 2001.
Lee, yang kini dikenal lewat perannya di berbagai produksi besar seperti Toy Story 5 dan Spider-Man: Across the Spider-Verse, menuturkan bahwa masa-masa awalnya di New York penuh dengan ketidakpastian. "Saya mencoba menjadi apa pun, seniman, aktor, atau sesuatu yang lain," ujarnya. Namun, pengalaman itulah yang menurutnya membuatnya menjadi "versi dewasa" dari dirinya.
Meski demikian, hubungan Lee dengan New York kini terasa berbeda. Saat kembali ke kota itu, ia merasa seperti mencoba terhubung kembali dengan "New York lama yang sudah tidak ada". Perasaan asing ini juga ia rasakan di industri film. Lee mengaku kerap merasa tidak cocok dengan dunia hiburan, terutama sebagai perempuan Korea-Amerika. "Tidak ada cetak biru yang langsung masuk akal," katanya, seraya menambahkan bahwa segala sesuatu dalam kariernya tidak pernah berjalan sesuai rencana, baik atau buruk.
Di tengah kesuksesannya di film berbiaya besar, Lee tetap vokal membela film independen. Baginya, film-film kecil seperti Late Fameโgarapan sutradara Kent Jonesโsangat penting. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, ia menyatakan, "Saya benar-benar percaya pada film seperti ini. Saya aktif mengampanyekan agar kita terus membuat dan mendukung film dengan skala seperti ini." Lee menekankan bahwa pengalaman menonton di bioskop sedang berada dalam situasi yang sulit, dan ia khawatir jika tidak ada lagi film seperti itu yang bisa dinikmati penonton.
Pernyataan Lee ini relevan bagi industri film Indonesia yang juga bergulat dengan dominasi film laris berbiaya besar. Di tengah maraknya film komersial, ruang bagi film independen sering kali terpinggirkan. Padahal, film-film seperti Yuni atau Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas membuktikan bahwa karya kecil bisa mendapat tempat di hati penonton. Namun, dukungan dari pemerintah dan distributor masih menjadi pekerjaan rumah.
Lee sendiri mengakui bahwa industri film sedang berada di titik rawan. Ia menggarisbawahi bahwa tanpa dukungan terhadap film independen, keragaman cerita akan hilang. Pertanyaannya, apakah penonton dan pembuat kebijakan di Indonesia akan belajar dari kekhawatiran Lee sebelum terlambat?



