Gianni Infantino Kembali Didesak Mundur: Uefa Akui Bayar Pesangon ke Perempuan yang Dikaitkan dengan Dirinya
Baca dalam 60 detik
- Investigasi Daily Telegraph mengungkap Uefa membayar pesangon enam digit kepada perempuan yang disebut memiliki hubungan dengan Gianni Infantino saat menjabat sekretaris jenderal.
- Infantino membantah keras tuduhan tersebut, menyebutnya fitnah, sementara Uefa mengonfirmasi pembayaran untuk biaya MBA perempuan itu.
- Tekanan terhadap Infantino meningkat di tengah rencana kontroversial penjualan saham Piala Dunia yang gagal, dengan beberapa federasi mendukungnya dan lainnya menuntut pengunduran diri.

Gianni Infantino kembali diterpa badai menjelang akhir masa jabatannya sebagai presiden FIFA. Investigasi Daily Telegraph mengungkap bahwa Uefa, tempat Infantino menjabat sekretaris jenderal selama tujuh tahun, telah membayar pesangon enam digit kepada seorang perempuan yang disebut memiliki hubungan asmara dengannya. Pembayaran itu dilakukan saat Infantino masih aktif di tubuh organisasi sepak bola Eropa tersebut, dan kini memicu gelombang baru tuntutan pengunduran diri.
Juru bicara Infantino membantah keras tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai "kebohongan yang tidak berdasar" dan "fitnah". Pernyataan resmi FIFA menegaskan bahwa tidak pernah ada keluhan perilaku tidak pantas dari karyawan Uefa maupun FIFA. Namun, Uefa sendiri mengonfirmasi bahwa pembayaran kepada perempuan tersebut memang dilakukan, dengan alasan untuk menutup biaya program MBA di sebuah sekolah bisnis lokal.
Kontroversi ini menambah daftar panjang masalah yang dihadapi Infantino. Sebelumnya, rencananya untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta menuai kecaman luas dan akhirnya dibatalkan. Meski demikian, pria berusia 56 tahun itu hanya meminta maaf atas "kesalahan" yang dibuatnya, tanpa bersedia mundur. Dukungan dari sejumlah federasi seperti Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Conmebol, Meksiko, dan Argentina membuat posisinya masih aman untuk sementara.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola yang bersih dalam organisasi olahraga global. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang juga menjabat di FIFA, tentu akan mencermati perkembangan ini. Langkah FIFA ke depan akan menentukan arah sepak bola dunia, termasuk bagaimana kepentingan negara berkembang seperti Indonesia diperjuangkan.
Uefa menyatakan bahwa semua pembayaran saat itu sesuai dengan regulasi yang berlaku, namun peraturan tersebut kemudian diperketat. Mereka mengklaim kebijakan baru kini mencerminkan standar organisasi modern. Meski begitu, pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas tetap menggantung. Apakah Infantino bisa bertahan menghadapi tekanan ini, atau justru semakin terpojok? Publik sepak bola dunia, termasuk Indonesia, akan terus mengawal kasus ini.
Di tengah hiruk-pikuk politik sepak bola Eropa, sejumlah federasi seperti Norwegia telah menyerukan agar Infantino mundur. Namun, dukungan dari Conmebol dan CAF menunjukkan bahwa ia masih memiliki basis kekuatan yang solid. Pertanyaannya, apakah dukungan tersebut akan bertahan jika investigasi lebih lanjut mengungkap fakta-fakta baru? Atau justru semakin banyak federasi yang menarik dukungannya?
Kasus ini juga menyoroti bagaimana organisasi olahraga internasional sering kali terjebak dalam pusaran kepentingan politik dan finansial. Bagi Indonesia, yang tengah giat membenahi sepak bola nasional, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya integritas dan transparansi dalam pengelolaan organisasi. Bagaimana FIFA menangani kasus ini akan menjadi ujian kredibilitas mereka di mata dunia.



