Euro Merosot ke Level Terendah Setahun, Data PMI Zona Euro Kian Suram
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar euro terhadap dolar AS jatuh ke 1,14, level terendah sejak Juni 2025, dipicu data manufaktur dan jasa yang melemah.
- Indeks PMI komposit Zona Euro berada di bawah 50 untuk tiga bulan berturut-turut, menandakan kontraksi ekonomi yang berkelanjutan.
- Pelemahan euro berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor Indonesia dari Eropa, terutama barang modal dan bahan baku.

Nilai tukar euro terhadap dolar Amerika Serikat ambles ke posisi terendah dalam 12 bulan terakhir, tepatnya di level 1,14 per dolar, setelah serangkaian data ekonomi Zona Euro menunjukkan perlambatan yang lebih dalam dari perkiraan. Dalam sebulan terakhir, mata uang tunggal Eropa itu sudah kehilangan 2,15 persen nilainya, sementara dalam setahun terakhir terkoreksi 1,89 persen.
Pergerakan euro yang terus tertekan ini terjadi setelah rilis data awal Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Zona Euro untuk Juni yang turun ke 51,3 dari sebelumnya 51,6. Meski masih di atas level 50 yang menandakan ekspansi, perlambatan ini cukup mengejutkan pasar. Sementara itu, sektor jasa yang sempat mengalami kontraksi justru menunjukkan sedikit perbaikan, dari 47,7 menjadi 48,9, namun masih berada di bawah ambang batas ekspansi.
Yang lebih mengkhawatirkan, indeks PMI komposit Zona Euro—yang menggabungkan manufaktur dan jasa—berada di angka 49,5, turun tipis dari 48,8 pada April. Ini adalah bulan ketiga berturut-turut indeks tersebut berada di bawah level 50, sesuatu yang tidak pernah terjadi sepanjang tahun lalu. Kondisi ini menandakan bahwa ekonomi Zona Euro secara keseluruhan masih mengalami kontraksi, meskipun lajunya melambat.
Tekanan tambahan datang dari dua motor ekonomi utama Eropa, Jerman dan Prancis. Indeks komposit kedua negara tersebut sama-sama berada di bawah 50 dan bahkan melambat secara berurutan. Hal ini memperkuat sentimen negatif terhadap euro, yang kini diperdagangkan di kisaran 1,1400—nyaris menyentuh level terendah tahun ini yang sempat tercatat di 1,1410 pada pertengahan Maret.
Dari sisi teknikal, analis pasar menilai bahwa jika euro berhasil menembus level support psikologis di 1,1390—yang merupakan level terendah Agustus lalu—maka potensi koreksi selanjutnya menuju area 1,1340 akan terbuka lebar. Indikator momentum intraday saat ini sudah menunjukkan kondisi jenuh jual (oversold), namun area 1,1420-25 yang sebelumnya menjadi support kini berpotensi berubah menjadi resistance.
Di tengah pelemahan euro, yen Jepang justru menjadi satu-satunya mata uang G10 yang mampu bertahan. Menteri Keuangan Jepang dikabarkan gencar melakukan komunikasi dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang selama ini cenderung diam terkait nilai tukar meskipun Bank of Japan (BOJ) telah melakukan intervensi pada April dan Mei lalu. Dengan kenaikan suku bunga yang sudah direalisasikan BOJ bulan ini, ada spekulasi bahwa Jepang akan mendapatkan dukungan lebih dari AS, seperti yang terjadi pada Januari lalu.
Bagi Indonesia, pelemahan euro ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, nilai tukar rupiah terhadap euro berpotensi menguat, yang dapat menekan harga barang impor dari Eropa seperti mesin, peralatan berat, dan bahan baku industri. Namun di sisi lain, jika dolar AS tetap perkasa, rupiah justru bisa tertekan karena investor cenderung beralih ke aset safe haven dolar. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga, terutama di tengah tekanan inflasi impor yang masih membayangi.
Ke depan, pasar akan mencermati rilis data PMI final Zona Euro serta keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pada pertemuan berikutnya. Apakah ECB akan mempertahankan sikap hawkish di tengah perlambatan ekonomi, atau justru melonggarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan? Jawabannya akan menentukan arah euro dalam beberapa pekan ke depan, sekaligus memengaruhi dinamika perdagangan dan investasi global, termasuk arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia.



