Penghargaan Pemda: Tito Karnavian Tegaskan Insentif Fiskal sebagai Pemacu Inovasi Daerah
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian menyebut penghargaan Pemda berprestasi bertujuan mendorong kompetisi sehat dan perbaikan tata kelola pemerintahan.
- Penilaian penghargaan menggunakan data BPS dan SIPD, menjamin transparansi dan akuntabilitas dalam menentukan penerima insentif fiskal.
- Kemendagri akan melanjutkan program ini di enam regional sebagai bagian dari strategi 'stick and carrot' untuk memacu kinerja daerah.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan bahwa pemberian penghargaan kepada pemerintah daerah (Pemda) bukan sekadar seremoni, melainkan instrumen strategis untuk memacu kepala daerah berinovasi dan memperbaiki tata kelola pemerintahan. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Pemberian Penghargaan Pemda Berprestasi Regional Papua Tahun 2026 di Hotel Suni Abepura, Kota Jayapura, Senin (22/6) malam.
Menurut Tito, penghargaan ini menjadi bukti bahwa banyak daerah mampu menunjukkan capaian positif dalam penyelenggaraan pemerintahan. Ia berharap kepala daerah yang belum meraih penghargaan dapat menjadikannya sebagai motivasi untuk meningkatkan performa dan bersaing memperoleh insentif fiskal dari pemerintah pusat. “Nah, kita harapkan dengan adanya kegiatan ini teman-teman kepala daerah akan lebih bersemangat, termotivasi. Bagi yang belum beruntung, kita harapkan berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan dana insentif fiskal,” ujar Tito.
Mendagri menjelaskan bahwa mekanisme penilaian penghargaan mengandalkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD). Dengan demikian, proses penilaian berlangsung akuntabel dan transparan. “Mengambil data itu aja udah ketahuan daerah mana yang bisa mengendalikan inflasi, yang relatif terjaga baik. Pengangguran juga ada datanya di BPS. Kemudian untuk kemiskinan sama, ada di BPS juga, bisa kelihatan mana daerah-daerah yang naik turun. Kemudian untuk creative financing itu diambil dari SIPD,” tuturnya.
Tito mengapresiasi dukungan Komisi II DPR RI dan memastikan kegiatan serupa akan terus dilaksanakan di enam regional. Langkah ini merupakan implementasi pendekatan “stick and carrot”, yakni pemberian penghargaan bagi daerah berprestasi sekaligus dorongan bagi daerah lain untuk terus memperbaiki kinerjanya. “Kita harapkan dengan adanya kegiatan ini teman-teman kepala daerah akan lebih bersemangat, termotivasi,” imbuhnya.
Pada penyelenggaraan kali ini, Kemendagri berkolaborasi dengan salah satu media nasional. Melalui kerja sama tersebut, Tito berharap berbagai capaian dan prestasi kepala daerah dapat dipublikasikan secara lebih luas kepada masyarakat. Hal ini dinilai penting untuk membangun budaya transparansi dan akuntabilitas di tingkat daerah.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa insentif fiskal yang diberikan benar-benar dialokasikan untuk program-program yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat. Akankah penghargaan ini cukup efektif mendorong pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia?



