Dari Liga Non-Liga ke Piala Dunia: Kisah Antoine Semenyo, Pemain yang Tak Pernah Menyerah
Baca dalam 60 detik
- Antoine Semenyo, penyerang Manchester City asal Ghana, menjalani perjalanan karier yang luar biasa dari gagal di akademi klub besar hingga tampil di Piala Dunia.
- Kunci kebangkitannya adalah pelatih David Hockaday yang menanamkan dua kata: lapar dan percaya diri, serta dukungan dari sejumlah mentor di setiap tahap kariernya.
- Kisah Semenyo menjadi inspirasi bagi pemain muda Indonesia bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari kerja keras dan keyakinan.

Antoine Semenyo, striker timnas Ghana yang kini berseragam Manchester City, akan menghadapi Inggris di Piala Dunia 2026 โ sebuah pencapaian yang nyaris mustahil terbayangkan saat ia remaja dan nyaris putus asa karena gagal di berbagai akademi klub Premier League. Perjalanan pemain berusia 26 tahun ini adalah bukti bahwa kegigihan dan kepercayaan dari orang lain mampu mengubah nasib.
Lahir di London dari orang tua Ghana, Semenyo kecil sudah akrab dengan bola. Ayahnya, Larry, yang pernah bermain di liga utama Ghana bersama Tony Yeboah, melatihnya menggunakan kedua kaki sejak dini. Bakatnya terlihat, namun jalan menjadi pemain profesional tak mulus. Ia menjalani trial di Arsenal, Tottenham, Millwall, dan Crystal Palace โ semuanya berujung penolakan. Pada usia 16 tahun, Semenyo hampir menyerah.
Nasib berubah saat ia mengikuti trial di Bisham Abbey. Di sana, mantan manajer Forest Green Rovers, David Hockaday, melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain. "Saat pertama kali bertemu, dia tampak hilang. Tidak ada keyakinan di matanya," kenang Hockaday kepada BBC Sport. Hockaday kemudian melacak orang tua Semenyo dan menawarkan bantuan. Ia membawa Semenyo ke tim South Gloucestershire and Stroud (SGS) College, bahkan menjemputnya pukul 5 pagi setiap Sabtu untuk bermain di liga non-liga.
Dua kata menjadi mantra Semenyo: lapar dan percaya diri. "Saya katakan padanya, jangan buktikan mereka salah, buktikan dirimu benar, buktikan aku benar," ujar Hockaday. Semenyo pun berkembang. Ia dipinjamkan ke Bath City (non-liga) dan Newport County (League Two) untuk mengasah fisik dan mental. Pelatih Bath City, Jerry Gill, menilai pengalaman melawan pemain senior membuat Semenyo belajar melindungi bola dan bergerak tanpa bola.
Langkah besarnya datang saat Nigel Pearson melatih Bristol City. Pearson, yang harus memangkas gaji, memberikan kepercayaan kepada pemain muda. Semenyo dan Alex Scott menjadi andalan. Musim 2021-22, Semenyo mencatat 8 gol dan 12 assist. Ketajamannya menarik minat klub Premier League, termasuk Crystal Palace yang pernah menolaknya. Pada Januari 2023, Bournemouth menebusnya sebesar ยฃ10 juta.
Di Bournemouth, Semenyo bersinar di bawah asuhan Andoni Iraola. Gaya bermain energi tinggi dan counter-pressing cocok dengannya. Ia menorehkan 32 gol dan 13 assist dalam 110 penampilan. Performa apiknya menarik perhatian Pep Guardiola, dan pada Januari 2026, Manchester City mengeluarkan ยฃ65 juta untuk membawanya ke Etihad. Bahkan Hockaday mengaku tak menyangka langkah sejauh itu.
Di musim 2025-26, Semenyo mencetak 11 gol dan 3 assist untuk City sebelum bergabung dengan skuad Ghana di Piala Dunia. Puncaknya, ia menjadi pahlawan FA Cup dengan gol kemenangan ke gawang Chelsea di final Wembley. "Melihat apa yang telah ia capai, itu sungguh mencengangkan," kata Hockaday, yang tetap menjalin hubungan dekat dengan Semenyo.
Kisah Semenyo relevan bagi sepak bola Indonesia, di mana banyak pemain muda gagal di akademi klub besar dan kehilangan arah. Perjalanannya menunjukkan bahwa jalur non-liga, dukungan mentor, dan etos kerja bisa membawa seseorang ke panggung tertinggi. Pertanyaannya, akankah Indonesia memiliki figur seperti Hockaday yang mau menjemput pemain pukul 5 pagi demi mimpi mereka?



