Ekuador Libur Nasional Usai Timnas Tembus 16 Besar Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Presiden Daniel Noboa menetapkan Jumat sebagai hari libur nasional setelah kemenangan dramatis Ekuador atas Jerman.
- Kemenangan 2-1 di laga pamungkas Grup E membawa Ekuador lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.
- Prestasi ini baru kedua kalinya bagi Ekuador dalam sejarah Piala Dunia, sebelumnya pada 2006.

Presiden Ekuador Daniel Noboa secara resmi mengumumkan Jumat (26/6) sebagai hari libur nasional setelah tim nasional negaranya menorehkan kejutan dengan mengalahkan Jerman 2-1 di laga penentu Grup E Piala Dunia 2026. Keputusan itu diambil sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan skuad yang sebelumnya sempat terpuruk.
"Terima kasih kepada para pemain dan pelatih yang, meskipun mendapat kritik, hinaan, dan masa-masa sulit, mampu bangkit dan memberikan kebahagiaan luar biasa bagi seluruh negeri. Besok, libur!" tulis Noboa di akun media sosial X. Pernyataan itu langsung disambut euforia warga Ekuador yang memadati jalan-jalan utama di Quito dan kota-kota lain.
Ekuador harus menang di pertandingan terakhir setelah sebelumnya hanya bermain imbang melawan Curacao dan kalah dari Pantai Gading. Sempat tertinggal lebih dulu akibat gol cepat Jerman, tim asuhan pelatih Sebastian Beccacece berhasil membalikkan keadaan melalui gol-gol di babak kedua. Kemenangan ini memastikan Ekuador lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
Bagi Ekuador, pencapaian ini sangat berarti. Mereka hanya sekali sebelumnya melangkah ke fase gugur, yakni pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Saat itu, Ekuador sukses menembus babak 16 besar sebelum akhirnya dikalahkan Inggris. Kini, mereka kembali menorehkan sejarah serupa di turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Di sisi lain, Jerman yang sudah memastikan diri sebagai juara grup sebelum laga, tetap tampil solid namun harus mengakui kegigihan Ekuador. Pantai Gading memastikan posisi runner-up setelah mengalahkan Curacao 2-0. Pertandingan di Stadion New York/New Jersey yang penuh sesak itu menjadi saksi kebangkitan Ekuador yang sempat diragukan.
Bagi Indonesia, kisah Ekuador menjadi pengingat bahwa perjuangan dan konsistensi bisa mengubah nasib di turnamen besar. Timnas Indonesia yang tengah berjuang di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia tentu bisa memetik pelajaran dari semangat pantang menyerah Ekuador. Apalagi, Indonesia juga pernah merasakan euforia serupa saat lolos ke Piala Dunia 1938, meski saat itu masih bernama Hindia Belanda.
Ke depan, Ekuador akan menghadapi lawan di babak 16 besar yang belum ditentukan. Dengan momentum positif dan dukungan penuh rakyatnya, bukan tidak mungkin mereka akan melangkah lebih jauh. Pertanyaannya, akankah Ekuador mampu mengulang atau bahkan melampaui pencapaian 2006? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



