Pop Mart Melebarkan Sayap: Dari Labubu ke Taman Tema dan Film, Bisakah Bertahan Tanpa Bintang Tunggal?
Baca dalam 60 detik
- Pop Mart, perusahaan mainan asal China, mulai mengembangkan taman tema, pameran, dan film untuk mengurangi ketergantungan pada karakter andalannya, Labubu.
- Meski pendapatan melonjak tiga kali lipat menjadi 37 miliar yuan tahun lalu, sekitar 40 persennya masih berasal dari waralaba The Monsters yang menaungi Labubu.
- Analis menilai kepemilikan penuh atas portofolio karakter memberi Pop Mart keunggulan dibanding pesaing seperti Miniso, namun tantangan menciptakan ikon baru tetap besar.

Pop Mart, raksasa mainan asal China yang namanya melesat berkat boneka bergigi runcing Labubu, kini tengah merombak strategi bisnisnya. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan penjualan koleksi dalam kotak buta (blind box), melainkan mulai merambah taman tema, pameran seni, hingga produksi film. Langkah ini diambil untuk membangun ekosistem hiburan yang lebih luas dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu karakter bintang.
Di jantung transformasi itu berdiri Pop Land, taman tema seluas 40.000 meter persegi yang berlokasi di Taman Chaoyang, Beijing. Setelah ditutup selama lebih dari setahun untuk renovasi, taman ini kembali beroperasi pada April lalu dengan wahana baru, pertunjukan, dan merchandise eksklusif yang terkait dengan kekayaan intelektual (IP) Pop Mart. Perusahaan bahkan berencana memperluas area taman dengan menambahkan zona tematik permanen yang terinspirasi karakter lain seperti Skullpanda dan Twinkle Twinkle, dengan konstruksi dijadwalkan mulai tahun depan.
Keputusan ini muncul di tengah kekhawatiran investor bahwa Pop Mart terlalu bergantung pada Labubu. Tahun lalu, pendapatan perusahaan mencapai 37 miliar yuan (sekitar Rp 82 triliun), hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Namun, sekitar 40 persen dari pendapatan itu disumbang oleh waralaba The Monsters, tempat Labubu bernaung. Kekhawatiran tersebut sempat memicu penurunan saham Pop Mart hingga 23 persen pada Maret lalu.
Manajemen Pop Mart membantah anggapan bahwa bisnis mereka hanya bertumpu pada satu karakter. Wang Tao, General Manager Urusan Publik Pop Mart, mengungkapkan bahwa lima IP lain perusahaan secara kolektif menghasilkan lebih dari 3 miliar dolar AS. "Dari perspektif keuangan, Labubu memang yang paling menonjol, tetapi IP lain juga menghasilkan pendapatan kuat dan tetap populer di kalangan konsumen," ujarnya. Wang menambahkan bahwa industri IP adalah bisnis jangka panjang, seperti Disney, Marvel, atau Harry Potter yang membutuhkan akumulasi puluhan tahun.
Strategi jangka panjang Pop Mart tidak hanya menambah karakter baru, tetapi juga memperpanjang umur karakter yang sudah ada. Sebuah film fitur berdasarkan Labubu sedang dalam pengembangan, sementara karakter Mollyโyang baru saja merayakan ulang tahun ke-20โmenjadi bukti bahwa karakter bisa bertahan jika terus diperbarui. Kenny Wong, pencipta Molly, mengatakan bahwa ia terus menghadirkan interpretasi baru agar karakter itu tetap relevan dengan kebutuhan emosional generasi yang berbeda.
CEO Pop Mart, Wang Ning, menekankan bahwa ambisi perusahaan bukan sekadar komersial, tetapi juga membangun merek kelas dunia. "Kami ingin menjadi seperti pohon dengan akar yang dalam," katanya dalam sesi media di Kantor Informasi Dewan Negara China. Ia percaya bahwa kemampuan manufaktur China yang kuat dan pasar domestik yang besar menjadi modal untuk menciptakan merek global yang digerakkan oleh IP.
Analis industri menilai langkah Pop Mart masuk akal. Jin Liu, analis senior di Euromonitor, mengatakan bahwa kepemilikan penuh atas IP memberi Pop Mart kendali lebih besar dibanding pesaing seperti Miniso yang lebih mengandalkan konten lisensi. "Pop Mart dapat mengubah produk koleksi IP menjadi pilihan gaya hidup bagi konsumen, menciptakan lebih banyak titik interaksi," ujarnya. Liu juga mencatat bahwa konsumen kini mencari koneksi emosional dan rasa memiliki melalui merek yang mereka dukung.
Bagi Indonesia, perkembangan Pop Mart menarik dicermati. Pasar mainan koleksi di Tanah Air juga tumbuh, dengan merek seperti Pop Mart mulai masuk melalui gerai resmi dan platform e-commerce. Jika Pop Mart berhasil membangun ekosistem hiburan yang terintegrasi, bukan tidak mungkin model serupa diadopsi di Indonesia, mengingat besarnya basis penggemar karakter populer seperti Labubu di kalangan anak muda. Namun, tantangan utama tetap sama: menciptakan karakter baru yang mampu menyamai popularitas Labubu dan Molly, baik di China maupun pasar global.
Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Pop Mart melahirkan bintang baru, atau justru akan terus bergantung pada senyum nakal Labubu?



