Hujan Deras Landa Guizhou: 9.100 Warga Dievakuasi, Sekolah Diliburkan
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 9.100 warga di Provinsi Guizhou, China barat daya, terpaksa mengungsi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Senin (22/6).
- Kota Duyun menaikkan status siaga banjir ke Level II dan meliburkan sekolah, sementara lebih dari 1.000 petugas dikerahkan untuk memulihkan listrik yang terputus.
- Curah hujan ekstrem di atas 200 mm dalam 24 jam melanda empat wilayah, memicu kekhawatiran akan dampak lebih luas pada infrastruktur dan keselamatan warga.

Hujan deras yang mengguyur Provinsi Guizhou, China barat daya, sejak Senin (22/6) memaksa lebih dari 9.100 warga meninggalkan rumah mereka. Otoritas setempat melaporkan bahwa hingga Selasa (23/6) belum ada korban jiwa, namun kerusakan infrastruktur dan gangguan listrik telah melumpuhkan aktivitas di sejumlah daerah.
Kota Duyun, yang berada di bawah Prefektur Otonomi Bouyei-Miao Qiannan, menjadi salah satu wilayah terparah. Pemerintah kota menaikkan status tanggap darurat banjir dari Level III ke Level II pada Selasa pagi, yang diikuti dengan keputusan meliburkan seluruh sekolah. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko banjir susulan yang masih mengancam.
Selain evakuasi massal, hujan lebat juga menyebabkan pemadaman listrik di beberapa bagian prefektur. Sebanyak 1.000 personel perbaikan jaringan listrik telah dikerahkan untuk memulihkan pasokan. Menurut observatorium meteorologi provinsi, lebih dari 20 wilayah setingkat kabupaten mengalami hujan deras dalam rentang waktu 24 jam, dengan empat di antaranya mencatat curah hujan melebihi 200 milimeter—angka yang tergolong ekstrem dan berpotensi memicu banjir bandang serta tanah longsor.
Fenomena cuaca ekstrem ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia terhadap perubahan iklim. Di Indonesia, musim hujan kerap memicu bencana serupa, seperti banjir dan longsor di berbagai daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan potensi peningkatan curah hujan akibat fenomena La Nina yang masih berlangsung. Pengalaman China dalam penanganan darurat banjir, termasuk sistem evakuasi cepat dan mobilisasi sumber daya, dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana.
Para ahli meteorologi menilai bahwa intensitas hujan yang melampaui 200 mm dalam sehari merupakan indikasi perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu. “Kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi jika pemanasan global tidak dikendalikan,” ujar seorang analis kebencanaan yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa investasi pada infrastruktur drainase dan sistem peringatan dini menjadi krusial untuk mengurangi dampak.
Ke depan, Guizhou masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah sistem tanggap darurat yang ada mampu melindungi warga dari ancaman banjir susulan, dan bagaimana negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, dapat mengadopsi praktik terbaik dari pengalaman China ini untuk menghadapi musim hujan yang kian ekstrem.



