Pasar Saham Global Menguat, Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Arah Suku Bunga
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham dunia mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Mei, didorong optimisme laba perusahaan dan sektor AI.
- Rilis data payrolls AS Jumat ini diperkirakan menjadi katalis utama pergerakan pasar, dengan spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat, mendorong harga minyak naik dan menambah ketidakpastian pasar.

Pasar saham global melaju menuju penguatan mingguan terkuat sejak Mei, Jumat (7/8), di tengah optimisme investor terhadap pertumbuhan laba perusahaan dan gairah sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, perhatian utama tertuju pada rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar hari ini, yang berpotensi besar mengubah arah kebijakan suku bunga The Fed.
Indeks MSCI All-World tercatat naik 2,3 persen sepanjang pekan ini, torehan terbaik dalam tiga bulan terakhir. Di Eropa, indeks STOXX 600 menguat 0,2 persen pada perdagangan Jumat dan 1,6 persen secara mingguan, ditopang oleh kinerja saham farmasi dan teknologi. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,3 persen, sedangkan S&P 500 cenderung stagnan.
Rilis data non-farm payrolls (NFP) Juli menjadi pusat perhatian pelaku pasar. Konsensus ekonom memperkirakan penambahan 80.000 lapangan kerja, naik dari 57.000 pada Juni, dengan tingkat pengangguran diprediksi tetap di 4,2 persen. Angka ini dinilai krusial karena dapat menentukan langkah The Fed dalam rapat kebijakan bulan depan, di mana pasar masih terbelah antara mempertahankan suku bunga atau mulai memangkas.
Michael Feroli, ekonom utama JPMorgan untuk AS, mengatakan bahwa data NFP kali ini berpotensi menjadi pedang bermata dua. "Dengan imbal hasil dan inflasi masih menjadi risiko utama bagi saham, kami memperkirakan NFP Jumat akan diperdagangkan sebagai 'kabar baik adalah kabar buruk'," ujarnya. Artinya, data yang kuat justru dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dan menekan pasar, sementara data yang lemah bisa meredakan kekhawatiran dan membuka peluang pelonggaran moneter.
Analis juga menyoroti sikap Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang enggan memberikan panduan jelas mengenai arah kebijakan. David Stritch, strategis dari Caxton, menilai kekosongan sinyal ini membuat pasar lebih sensitif terhadap data ekonomi. "Hasil yang sangat buruk atau sangat kuat dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar pada harga dibanding masa lalu, ketika The Fed lebih jelas tentang pilihannya," katanya. "Kekosongan harus diisi oleh apa pun yang tersedia, dan pasar selalu akan memilih dirinya sendiri sebagai solusi. Dampak praktisnya, volatilitas akan meningkat."
Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali memanas di Timur Tengah. Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran menyerang Arab Saudi, salah satu pemasok minyak utama dunia. Riyadh memperingatkan serangan terkoordinasi dengan milisi Irak pro-Iran segera terjadi. Akibatnya, harga minyak mentah Brent naik 1 persen ke US$83 per barel, meski masih jauh dari puncak US$102 dua pekan lalu. Iran juga tengah mengkaji rancangan undang-undang yang melarang kapal AS, Israel, dan kapal "musuh" melintasi Selat Hormuz, dengan denda hingga 20 persen dari nilai kargo bagi pelanggar.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS relatif stagnan karena investor menunggu data ketenagakerjaan. Imbal hasil surat utang 2 tahun berada di 4,243 persen, sementara 10 tahun di 4,67 persen. Dolar AS bergerak stabil, dengan yen Jepang diperdagangkan di kisaran 158,4 per dolar. Data pekerjaan AS diprediksi menjadi penentu arah yen setelah intervensi mata uang besar-besaran oleh Jepang dan AS pekan lalu.
Emas, yang kerap menjadi aset lindung nilai, mencatat kenaikan mingguan terkuat sejak pertengahan Januari, melonjak lebih dari 6 persen ke level tertinggi enam pekan di US$4.289 per ons. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Bagi pasar Indonesia, data NFP AS akan menjadi sinyal penting. Jika data menunjukkan pelemahan, The Fed berpeluang memangkas suku bunga lebih cepat, yang dapat mendorong arus modal asing masuk ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Sebaliknya, data yang kuat dapat memperkuat dolar AS dan menekan rupiah. Dengan ketegangan di Timur Tengah yang masih berlanjut, fluktuasi harga minyak juga berpotensi mempengaruhi inflasi dan nilai tukar di dalam negeri.
Pertanyaan besarnya, akankah data tenaga kerja kali ini menjadi titik balik bagi kebijakan moneter global, atau justru memperpanjang ketidakpastian yang sudah berlangsung berbulan-bulan? Yang jelas, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan.



