Krisis Kepemilikan West Ham: Sullivan Diprediksi Hadir di Laga Perdana meski Dilarang
Baca dalam 60 detik
- David Sullivan, pemegang saham mayoritas West Ham, diperkirakan tetap hadir pada laga Carabao Cup melawan Portsmouth akhir pekan ini, meski pihak stadion merekomendasikan agar ia menjauh.
- Keputusan ini berpotensi memicu protes suporter, mengingat tuduhan pelecehan seksual yang membuatnya mundur dari jabatan co-chair pada Juni lalu.
- Situasi ini memperumit masa depan kepemilikan klub, dengan potensi perubahan struktur saham yang bisa mengubah arah manajemen West Ham.

David Sullivan, pemegang saham terbesar West Ham United, diprediksi akan hadir pada laga perdana Carabao Cup melawan Portsmouth di London Stadium, Sabtu (10/8). Padahal, pengelola stadion telah merekomendasikan agar pria 77 tahun itu menjauhi pertandingan kandang demi meredam potensi gejolak suporter. Kehadirannya di tengah badai tuduhan pelecehan seksual yang menimpanya menjadi ujian pertama bagi klub dalam menghadapi tekanan publik.
Sullivan mundur dari jabatan co-chair pada Juni setelah investigasi bersama BBC Panorama dan The Times mengungkap tujuh perempuan menuduhnya melakukan perilaku eksploitatif dan predator seksual. Ia membantah keras semua tuduhan tersebut. Namun, rekomendasi dari London Stadium agar Sullivan tidak hadir menunjukkan kekhawatiran serius akan keselamatan dan ketertiban, terutama mengingat basis suporter West Ham yang dikenal vokal.
Laga melawan Portsmouth menjadi pertandingan pertama sejak tuduhan tersebut mencuat ke publik. Pihak London Stadium bahkan meminta pemberitahuan sebelumnya jika Sullivan berencana hadir, agar langkah pengamanan ekstra bisa disiapkan. Ini mengindikasikan bahwa kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan potensi pemicu konflik di tribun.
Investigasi tersebut juga mengungkap bahwa Sullivan telah dilarang berinteraksi dengan tim putri dan tim muda West Ham selama tiga tahun terakhir karena masalah safeguarding. Larangan ini baru diketahui London Stadium setelah laporan BBC dirilis. Sullivan sebelumnya juga pernah menghadapi tuduhan historis yang dilaporkan ke Federasi Sepak Bola Inggris (FA) pada 2023, yang ia sebut sebagai kebohongan.
Di luar kontroversi pribadi, West Ham tengah berada dalam situasi genting. Musim lalu mereka terdegradasi ke Championship untuk pertama kalinya sejak 2011, dan meski manajer Nuno Espirito Santo serta kapten Jarrod Bowen telah berkomitmen bertahan, ketidakpastian di level manajemen masih membayangi. Struktur kepemilikan klub sedang bergeser, dengan Vanessa Gold, putri mendiang David Gold, membatalkan rencana menjual sebagian sahamnya ke miliarder Ceko Daniel Kretinsky dan memilih menjual seluruh 25,1% sahamnya kepada Amanda Staveley, tokoh di balik pengambilalihan Newcastle oleh konsorsium Arab Saudi.
Langkah Staveley ini memicu dinamika baru. Kretinsky, yang sebelumnya memiliki 27% saham, telah menjual sebagian kecil kepemilikannya sehingga kini di bawah 25%. Hal ini memberinya hak pre-emption untuk membeli saham Gold lebih dulu, sesuai aturan internal klub. Jika Kretinsky mengambil opsi itu, ia akan menjadi pemegang saham terbesar tanpa harus membeli seluruh klub, sebuah skenario yang bisa mengubah peta kekuasaan di West Ham.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran tentang tata kelola klub dan pentingnya transparansi. Di tengah maraknya investasi asing di klub-klub Eropa, isu etika dan manajemen risiko menjadi sorotan. Bagaimana klub menyeimbangkan kepentingan komersial dengan integritas dan keamanan suporter adalah tantangan universal yang relevan dengan perkembangan sepak bola nasional.
Laga melawan Portsmouth diprediksi akan memecahkan rekor kehadiran untuk babak pertama Piala Liga Inggris, dengan 55.000 tiket musiman yang ludes terjual. Ini menunjukkan antusiasme suporter yang tetap tinggi, namun juga bisa menjadi panggung protes jika Sullivan benar-benar hadir. Pertanyaannya, mampukah West Ham menjaga ketenangan di dalam dan luar lapangan, atau justru krisis ini akan semakin memperdalam luka klub?



