Debut Sutradara Jerman di Locarno: Merayakan Kebanalan Hidup Lewat 'September Afternoon'
Baca dalam 60 detik
- Film pertama Nicolaas Schmidt, 'September Afternoon', akan tayang perdana di kompetisi utama Locarno pada 10 Agustus.
- Sang sineas justru menganggap momen-momen hampa sebagai bahan baku paling menarik, menolak tren sinema yang seragam.
- Karya ini mengajak penonton merenungkan keheningan dan kebosanan, sebuah antitesis dari hiruk-pikuk industri film arus utama.

Locarno, Swiss — Seorang debutan asal Jerman, Nicolaas Schmidt, siap mengguncang panggung Festival Film Locarno lewat karya perdananya yang justru merayakan kebosanan. Film berjudul September Afternoon itu akan bersaing di ajang Filmmakers of the Present Competition pada 10 Agustus mendatang. Alih-alih menawarkan ledakan emosi atau plot menegangkan, Schmidt justru memilih merenungkan momen-momen sunyi yang sering dianggap remeh oleh sineas lain.
Dalam catatan sutradara yang dibagikan kepada media, Schmidt menyebut dirinya menggunakan "waktu mati" sebagai bahan mentah utama. Ia sengaja merentangkan adegan-adegan biasa hingga penonton merasakan kekosongan yang justru bermakna. "Di era yang dipenuhi keanehan serampangan, kebanalan polos terasa sangat stimulatif," tulisnya. Pernyataan ini menjadi semacam manifesto pribadi yang menolak arus utama sinema kontemporer yang cenderung bombastis.
Kisah September Afternoon sendiri berpusat pada sepasang kekasih yang enggan menerima kenyataan bahwa musim panas telah berakhir. Ide ini lahir dari pengalaman pribadi Schmidt yang pernah berada dalam situasi serupa—tegang dan penuh ketidaknyamanan. "Saya kecewa karena tidak merekam momen itu atau tidak punya teman yang membawa kamera genggam," ungkapnya kepada The Hollywood Reporter. Dari penyesalan itulah ia kemudian memutuskan untuk mengabadikan dinamika hubungan yang rapuh melalui medium film.
Proses syuting ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Schmidt awalnya ingin menampilkan angin yang lebih kencang dari kenyataan, namun cuaca tak mendukung. "Pengalaman saya menunjukkan bahwa hasil justru lebih baik ketika banyak hal berubah dari rencana," katanya. Meski stres, ia mengakui bahwa melewati kesulitan bersama tim memberinya stabilitas emosional yang lebih tahan lama. Ini menjadi pelajaran berharga tentang kolaborasi dan adaptasi di tengah ketidakpastian produksi.
Bagi penonton Indonesia, kehadiran film seperti September Afternoon menjadi pengingat bahwa sinema tidak selalu harus spektakuler. Di tengah maraknya film bergenre horor atau drama melodramatis yang mendominasi bioskop Tanah Air, karya Schmidt menawarkan alternatif kontemplatif. Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, menikmati keheningan, dan menemukan keindahan dalam hal-hal yang tampak sepele. Ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap industri yang kerap menyeragamkan selera penonton.
Schmidt juga menegaskan bahwa ia tidak ingin karyanya mengikuti tren yang sedang populer. "Saya sulit menerima keseragaman. Saya merasa gelisah ketika orang tunduk pada mode dan keinginan massa," ujarnya. Baginya, setiap adaptasi harus melalui proses pertanyaan dan alasan yang valid. Sikap ini mungkin terkesan elitis, namun justru menjadi pembeda di tengah industri yang semakin homogen.
Pertanyaannya, akankah pendekatan radikal Schmidt ini diterima oleh juri dan penonton Locarno? Atau justru menjadi angin segar yang membuka ruang bagi eksperimentasi lebih luas di industri film global? Yang jelas, September Afternoon bukan sekadar tontonan, melainkan undangan untuk merenung—sesuatu yang langka di tengah derasnya arus hiburan instan.



