Kebakaran Gedung di Lucknow Tewaskan 15 Orang, Akses Biometrik Diduga Perparah Tragedi
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di gedung pusat animasi dan toko hewan di Lucknow, India utara, menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya, dipicu oleh minimnya jalur evakuasi.
- Sistem akses biometrik dan tangga tunggal yang terhalang api menjadi faktor penghambat penyelamatan, memicu kritik terhadap lemahnya pengawasan keselamatan gedung komersial di India.
- Insiden ini menyoroti kerentanan keselamatan kebakaran di kawasan padat penduduk Asia Selatan, relevan dengan kondisi serupa di kota-kota besar Indonesia yang kerap abai terhadap standar proteksi kebakaran.

Kebakaran hebat meludeskan sebuah gedung bertingkat di kawasan Aliganj, Lucknow, ibu kota negara bagian Uttar Pradesh, India utara, Senin (7/4) siang, merenggut sedikitnya 15 jiwa dan melukai puluhan orang. Tragedi ini kembali membuka luka lama soal lemahnya penerapan standar keselamatan kebakaran di gedung komersial padat penghuni di anak benua India.
Gedung tiga lantai tersebut menampung sebuah toko hewan peliharaan di lantai dasar, sementara dua lantai di atasnya disewa oleh pusat pelatihan animasi dan permainan 3D. Api pertama kali dilaporkan sekitar pukul 14.45 waktu setempat. Dalam sekejap, kobaran api dan asap tebal memenuhi satu-satunya tangga darurat, memutus satu-satunya jalur evakuasi yang tersedia. Tim pemadam kebakaran terpaksa menerobos dinding samping dari gedung tetangga untuk mencapai atap dan memulai penyelamatan.
Witnesses menyaksikan pemandangan mencekam: sejumlah orang nekat melompat dari jendela, sebagian lainnya merayap turun menggunakan kabel listrik. Warga sekitar, menurut saksi mata Anurag Ojha, berusaha memecahkan kaca gedung dengan batu agar lebih banyak orang bisa keluar. βSaya sedang beristirahat di kamar, tiba-tiba ada bau menyengat. Ketika saya lihat, api sudah besar dan orang-orang berteriak minta tolong,β ujarnya kepada BBC Hindi.
Korban tewas sebagian besar adalah peserta pelatihan dan karyawan yang terjebak di lantai atas. Beberapa korban sempat menghubungi keluarga sebelum akhirnya tak terselamatkan. Prabhujyot Singh, salah satu kerabat, menuturkan anaknya menelepon dan berteriak, βPapa, ada api. Selamatkan aku, aku terjebak di dalam.β Namun saat ia tiba di lokasi, semuanya sudah terlambat. Mohammad Shazan, 19 tahun, seorang trainee, dilaporkan bersembunyi di kamar mandi untuk menghindari asap, tetapi tak mampu keluar.
Faktor yang memperparah tragedi ini adalah sistem akses biometrik yang mengontrol pintu masuk ke beberapa bagian gedung. Menurut kerabat korban, sistem tersebut justru menjadi penghalang saat kebakaran terjadi, karena pintu tidak bisa dibuka tanpa pemindaian sidik jari. Otoritas setempat mengakui bahwa gedung tidak memiliki jalur darurat yang memadai. Deputi Kepala Menteri Uttar Pradesh, Brajesh Pathak, menyatakan penyelidikan resmi telah dimulai dan empat pejabat publik telah diskors. Polisi juga telah menangkap empat orang terkait kelalaian yang menyebabkan kebakaran.
Kebakaran Lucknow terjadi kurang dari sebulan setelah insiden serupa di sebuah tempat penginapan di Delhi yang juga menewaskan beberapa orang. Rangkaian tragedi ini memicu kembali perdebatan tentang lemahnya penegakan aturan keselamatan kebakaran di India, terutama di gedung-gedung komersial yang beroperasi di kawasan padat penduduk. Banyak bangunan tua yang beroperasi tanpa izin layak huni dan tanpa sistem proteksi kebakaran standar.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan kerentanan serupa di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Banyak pusat perbelanjaan, tempat kursus, dan gedung perkantoran yang beroperasi dengan jalur evakuasi terbatas, sistem akses elektronik tanpa fail-safe, dan minim inspeksi rutin. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat masih banyak bangunan di Indonesia yang belum memenuhi standar keselamatan kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat dan pusat komersial.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah: sejauh mana pemerintah daerah di Indonesia dan India serius mengawasi kepatuhan terhadap regulasi keselamatan kebakaran? Atau akankah tragedi Lucknow hanya menjadi catatan kaki berita tanpa mendorong perubahan berarti?



