Lonjakan Mobil Listrik Dongkrak Pasar Eropa, Merek China Kian Mendominasi
Baca dalam 60 detik
- Penjualan mobil listrik di Eropa naik 39,1% pada Mei, mendorong total registrasi kendaraan tumbuh 3,6%.
- Merek China seperti Leapmotor dan BYD mencatat pertumbuhan penjualan hingga 465%, menggerus pangsa pasar pabrikan Eropa.
- Tren ini mengindikasikan pergeseran preferensi konsumen global yang dapat mempengaruhi strategi ekspor mobil listrik ke Indonesia.

Permintaan kendaraan listrik di Eropa terus menjadi motor utama pertumbuhan pasar otomotif, bahkan ketika penjualan mobil berbahan bakar fosil merosot tajam. Data terbaru dari Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) menunjukkan bahwa pada Mei 2025, total registrasi mobil baru di Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara EFTA mencapai 1.152.523 unit, naik 3,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini hampir seluruhnya ditopang oleh kendaraan listrik. Registrasi mobil listrik baterai (BEV) melonjak 39,1%, sementara mobil hybrid plug-in (PHEV) naik 13,2% dan hybrid konvensional tumbuh 8,2%. Gabungan ketiga jenis kendaraan ini kini menguasai lebih dari dua pertiga total penjualan mobil baru di Eropa. Sebaliknya, permintaan mobil bensin dan diesel masing-masing ambles sekitar 19%.
ACEA menyebut bahwa kebijakan insentif pajak yang diperbarui di sejumlah negara Eropa menjadi faktor utama di balik gairah konsumen terhadap teknologi elektrifikasi. โPasar terus diuntungkan oleh permintaan konsumen yang kuat terhadap beragam teknologi elektrifikasi di pasar-pasar utama Eropa, ditopang oleh skema insentif dan manfaat pajak yang baru dan direvisi,โ demikian pernyataan asosiasi tersebut.
Di tengah peralihan ini, pabrikan Eropa justru kehilangan momentum. Registrasi Renault, Stellantis, dan Volkswagen merosot antara 1% hingga 3%. Sementara itu, produsen China justru mencatatkan ekspansi fenomenal. Leapmotor membukukan lonjakan penjualan 465,1%, disusul Chery yang naik 244,1% dan BYD sebesar 136,6%. Geely dan SAIC juga mencatat pertumbuhan dua digit.
Tesla, yang sempat mengalami penurunan penjualan lebih dari setahun, berhasil bangkit. Registrasi Tesla di Eropa melesat 107,9% menjadi 28.610 unit pada Mei, menandai bulan keempat berturut-turut pemulihan. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan di segmen kendaraan listrik Eropa semakin ketat, dengan pemain baru dari China dan Amerika Serikat menggerus dominasi pabrikan lokal.
Bagi Indonesia, tren ini membawa implikasi strategis. Sebagai negara dengan pangsa pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara, Indonesia tengah gencar mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif. Keberhasilan merek China di Eropa menunjukkan bahwa produsen seperti BYD dan Chery memiliki daya saing global yang kuat. Hal ini bisa menjadi sinyal bagi pelaku industri dalam negeri untuk mempercepat transformasi atau menjalin kemitraan dengan pemain global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pabrikan Eropa mampu membalikkan keadaan dengan inovasi atau justru semakin terdesak oleh agresivitas merek China. Sementara itu, konsumen Indonesia mungkin akan segera menikmati lebih banyak pilihan mobil listrik dengan harga yang lebih kompetitif, seiring meluasnya skala produksi para pemain global.



