Retakan di Sayap A380 Muncul Lagi, Airbus Periksa 16 Unit
Baca dalam 60 detik
- Airbus memeriksa 16 unit A380 setelah ditemukan retakan pada komponen struktural sayap yang menahan beban aerodinamis.
- Lima pesawat Emirates harus diperiksa segera, sementara 11 unit lainnya menyusul sebelum 13 penerbangan berikutnya.
- Insiden ini mengingatkan pada masalah serupa tahun 2012 yang memicu program perbaikan mahal di seluruh armada A380.

Airbus kembali dihadapkan pada persoalan struktural pada pesawat raksasa A380. Pabrikan asal Prancis itu mengumumkan akan memeriksa 16 unit A380, lima di antaranya harus segera menjalani inspeksi, setelah ditemukan retakan pada komponen penting di sayap pesawat yang dioperasikan oleh Emirates dan Qantas.
Retakan tersebut muncul pada balok struktural yang membentang di sepanjang sayap dan memikul sebagian besar beban aerodinamis selama penerbangan. Temuan ini terungkap dalam inspeksi perawatan rutin yang kemudian mendorong Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) mengeluarkan perintah inspeksi mendesak. EASA meminta maskapai untuk memeriksa struktur wing-spar pada pesawat yang terdampak.
Dari 16 pesawat yang masuk daftar inspeksi, 15 unit dioperasikan oleh Emirates dan satu unit oleh Qantas. Lima pesawat yang harus diperiksa segera seluruhnya milik Emirates, dan prosesnya dijadwalkan mulai pada Rabu (24/6) waktu setempat. Emirates, yang mengoperasikan armada A380 terbesar di dunia dengan lebih dari separuh total superjumbo yang masih aktif, menyatakan inspeksi akan dimulai dalam 48 jam ke depan dan semua pekerjaan yang diperlukan akan dilakukan sebelum pesawat kembali beroperasi.
Maskapai asal Dubai itu juga berkomitmen bekerja sama erat dengan Airbus dan otoritas terkait untuk meminimalkan gangguan pada jadwal penerbangan. Sementara itu, 11 pesawat lainnya dapat diperiksa kemudian, tetapi harus selesai sebelum pesawat menjalani penerbangan ke-13, atau setara dengan 25 siklus penerbanganโsetiap siklus terdiri dari satu kali terbang, lepas landas, dan mendarat.
Airbus menjelaskan bahwa retakan yang ditemukan berpotensi mengurangi integritas struktural sayap. Semua A380 dengan riwayat produksi yang sama telah diidentifikasi, dan pabrikan akan berdiskusi dengan EASA mengenai perlu tidaknya perbaikan. Ini bukan pertama kalinya A380 menghadapi masalah pada sayap. Pada 2012, EASA memerintahkan inspeksi setelah retakan ditemukan pada braket yang menghubungkan kulit sayap dengan rusuk internal. Insiden itu memengaruhi seluruh armada A380 global dan memicu program perbaikan mahal yang kemudian diatasi Airbus melalui perubahan desain pada pesawat yang diproduksi kemudian.
Bagi Indonesia, meskipun tidak ada maskapai nasional yang mengoperasikan A380, insiden ini tetap relevan. Garuda Indonesia pernah menyewa A380 untuk rute haji, dan beberapa maskapai asing yang melayani rute ke Indonesia, seperti Singapore Airlines dan Emirates, mengoperasikan pesawat ini. Jika inspeksi menyebabkan penundaan atau pengurangan frekuensi penerbangan, penumpang di Indonesia bisa terdampak, terutama pada rute Jakarta-Dubai atau Jakarta-Singapura. Selain itu, pengalaman A380 menunjukkan bahwa masalah struktural pada pesawat besar dapat memicu biaya perawatan tinggi yang pada akhirnya dibebankan ke harga tiket.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah EASA akan memperluas perintah inspeksi ke seluruh armada A380 yang masih beroperasi, seperti yang terjadi pada 2012. Jika ya, biaya perbaikan bisa sangat besar dan mempercepat pensiunnya pesawat yang sudah dihentikan produksinya sejak 2021. Bagi Airbus, ini menjadi ujian kredibilitas di tengah fokus perusahaan pada pengembangan pesawat generasi baru.



