Skuter Listrik Otomatis Berhenti Saat Masuki Zona Terlarang di Kyoto, Langkah Baru Atur Mobilitas
Baca dalam 60 detik
- Luup Inc. menerapkan sistem GPS yang memaksa skuter listrik berhenti otomatis saat memasuki area tepi Sungai Kamo di Kyoto, Jepang.
- Inisiatif ini merupakan yang pertama di dunia untuk menghentikan skuter listrik secara otomatis di zona yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor.
- Langkah ini diharapkan mengurangi risiko kecelakaan dengan pejalan kaki dan menjaga kelestarian kawasan bersejarah Kyoto.

Skuter listrik yang dioperasikan oleh Luup Inc. secara otomatis akan berhenti jika pengendara mencoba memasuki area tepi Sungai Kamo di Kyoto, Jepang, dalam sebuah inisiatif yang disebut sebagai yang pertama di dunia. Langkah ini diambil untuk mengatasi pelanggaran yang terus terjadi meskipun sudah ada larangan, serta untuk melindungi keselamatan pejalan kaki yang memadati kawasan tersebut.
Program yang dimulai pada 23 Juni ini merupakan kerja sama antara Luup, Pemerintah Prefektur Kyoto, dan kepolisian setempat. Sistem menggunakan GPS internal pada skuter untuk mendeteksi lokasi. Begitu skuter mendekati area tepi sungai, kendaraan akan mengeluarkan peringatan suara, "Anda berada di zona terlarang. Kendaraan akan berhenti," sebelum secara bertahap melambat hingga berhenti total.
Menurut Luup, belum ada tindakan serupa yang diterapkan di mana pun di dunia untuk menghentikan skuter listrik secara otomatis di area yang tidak diperuntukkan bagi lalu lintas kendaraan bermotor. Langkah ini menjadi solusi atas pelanggaran yang terus terjadi di tepi Sungai Kamo, yang merupakan salah satu ikon wisata Kyoto. Meskipun peraturan daerah setempat melarang skuter melintas di area tersebut, banyak pengendara yang tetap melakukannya, baik karena ketidaktahuan maupun sengaja.
Di bawah Undang-Undang Lalu Lintas Jalan Jepang yang direvisi pada 2023, skuter listrik diklasifikasikan sebagai "sepeda motor kecil tertentu" dan umumnya diwajibkan melaju di jalan raya dengan batas kecepatan maksimal 20 kilometer per jam. Kawasan tepi sungai yang dipadati pejalan kaki, termasuk turis dan warga lokal, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan dan potensi konflik. Dengan teknologi ini, Luup berharap dapat meningkatkan keamanan sekaligus melestarikan pemandangan bersejarah Kyoto.
CEO Luup, Daiki Okai, menjelaskan bahwa Sungai Kamo menarik banyak wisatawan, dan meskipun sudah ada informasi bahwa area tersebut terlarang, beberapa pengendara tetap memasukinya tanpa sadar, sementara yang lain melakukannya dengan sengaja. "Karena itu kami memperkenalkan fitur ini untuk menghentikan kendaraan secara otomatis," ujarnya. Langkah ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi solusi untuk menegakkan aturan lalu lintas di area yang rawan pelanggaran.
Bagi Indonesia, inovasi ini relevan mengingat maraknya penggunaan skuter listrik di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Meskipun regulasi di Indonesia belum seketat Jepang, potensi konflik antara pengguna skuter listrik dan pejalan kaki juga semakin meningkat. Penerapan sistem serupa bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan keselamatan di area publik, terutama di kawasan wisata dan trotoar yang padat. Namun, tantangan seperti infrastruktur GPS yang akurat dan kesadaran pengguna masih perlu diatasi.
Ke depan, keberhasilan program di Kyoto dapat menjadi model bagi kota-kota lain di dunia yang menghadapi masalah serupa. Pertanyaannya, apakah teknologi ini akan diadopsi secara luas, atau justru menimbulkan perdebatan baru mengenai privasi dan kebebasan bergerak? Yang jelas, langkah ini menandai babak baru dalam pengaturan mobilitas perkotaan yang lebih cerdas dan aman.



