Andi Gani Peringatkan 55 Ribu Buruh Terancam PHK Imbas Lonjakan Harga Gas Industri
Baca dalam 60 detik
- Presiden KSPSI Andi Gani mengungkapkan potensi PHK massal terhadap 55.000 buruh dari dua pabrik keramik dalam 10 hari ke depan akibat kenaikan harga gas industri.
- Lonjakan harga gas dari 6 dolar AS menjadi 23 dolar AS per unit disebut sebagai pemicu utama kesulitan industri keramik, yang kini terancam merembet ke sektor tekstil.
- Andi Gani mendesak pemerintah, melalui Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, untuk segera mencari solusi agar gelombang PHK tidak meluas.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, memperingatkan bahwa sekitar 55.000 buruh dari dua pabrik keramik besar berpotensi kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat. Ancaman ini disampaikan langsung di hadapan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) di Jakarta Pusat, Selasa (23/6).
Menurut Andi Gani, lonjakan harga gas industri menjadi biang keladi utama krisis yang melanda sektor keramik. Ia menyebutkan bahwa harga gas yang sebelumnya berada di kisaran 6 dolar AS per unit kini melonjak drastis menjadi 23 dolar AS. Kenaikan hampir empat kali lipat ini dinilai telah memukul daya saing industri dalam negeri, khususnya pabrik-pabrik yang bergantung pada gas sebagai bahan bakar utama proses produksi.
"Minggu depan, maksimal sepuluh hari ke depan, 55.000 orang ter-PHK. Ini menjadi kekhawatiran kita semua karena gas industri," ujar Andi Gani dalam paparannya. Ia secara spesifik menyebut Pabrik Milenium Keramik dan Mulia Keramik sebagai dua perusahaan yang paling terpukul. Jika tidak ada intervensi cepat, gelombang PHK diprediksi akan meluas ke sektor lain, terutama industri tekstil yang juga sangat bergantung pada pasokan gas.
Andi Gani menekankan bahwa situasi ini memerlukan respons cepat dari pemerintah. Ia meminta Sufmi Dasco Ahmad, yang hadir dalam acara tersebut, untuk membantu mencari jalan keluar. "Ini menjadi kemirisan buat kita semua karena itu saya minta Bang Dasco yang bisa mencari jalan cepat keluar masalah gas industri," jelasnya. Ia khawatir jika penanganan terlambat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor keramik, tetapi juga akan merembet ke industri padat karya lainnya.
Kenaikan harga gas industri sendiri telah menjadi isu berkepanjangan di Indonesia. Para pelaku industri kerap mengeluhkan bahwa harga gas di dalam negeri lebih tinggi dibandingkan negara tetangga, sehingga menekan margin produksi dan daya saing ekspor. Pemerintah sebenarnya telah berupaya menurunkan harga gas melalui kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk tujuh sektor industri, namun implementasinya dinilai belum optimal. Kasus keramik dan tekstil menunjukkan bahwa masih banyak sektor yang belum menikmati insentif tersebut.
Ke depan, tekanan terhadap industri padat karya diperkirakan akan semakin berat jika tidak ada kebijakan yang mampu menstabilkan harga energi. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: mampukah pemerintah merespons dalam hitungan hari, sebelum 55.000 buruh benar-benar harus kehilangan mata pencaharian? Atau akankah gelombang PHK ini menjadi awal dari krisis ketenagakerjaan yang lebih luas?



