IHSG Anjlok 2,18% di Tengah Aksi Jual Masif, 546 Saham Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles lebih dari 2% pada sesi pertama perdagangan Jumat, dengan 546 saham tercatat melemah.
- Tekanan berasal dari data ekonomi AS yang kuat dan sikap hawkish The Fed, ditambah kenaikan bunga penjaminan LPS di dalam negeri.
- Penerbitan Panda Bond yang dijadwalkan awal Juli diharapkan menjadi bantalan bagi pasar obligasi, namun sentimen jangka pendek masih negatif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 2% pada perdagangan intraday Jumat (26/6/2026), membalikkan penguatan awal setelah dibuka di zona hijau. Aksi jual besar-besaran melanda Bursa Efek Indonesia, dengan 546 saham tertekan dan hanya 98 saham yang mampu bertahan di zona positif.
Hingga pukul 10.23 WIB, IHSG tercatat turun 130,53 poin ke level 5.868,50. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.045 pada awal sesi, namun berbalik arah hingga menyentuh titik terendah 5.864. Nilai transaksi mencapai Rp4,44 triliun dengan volume 8 miliar saham dalam 662 ribu kali transaksi. Lima emiten paling aktif diperdagangkan adalah TPIA, BBCA, BMRI, DSSA, dan TLKM.
Seluruh sektor bergerak negatif, dengan sektor barang baku menjadi yang paling terpukul, turun 3,90%. Disusul konsumer non-primer (-2,60%), utilitas (-2,28%), dan teknologi (-2,12%). Saham-saham berkapitalisasi besar seperti Telkom Indonesia (TLKM) menjadi pemberat utama indeks, menyumbang koreksi 13,58 poin. BMRI, DCII, BBRI, dan BRMS juga ikut menekan IHSG dengan kontribusi masing-masing di atas 6 poin.
Tekanan jual ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, data ekonomi Amerika Serikat yang kuat kembali memicu kekhawatiran pasar. Inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Mei 2026 naik menjadi 4,1% secara tahunan, tertinggi sejak April 2023 dan jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Di saat yang sama, pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 direvisi naik menjadi 2,1%, sementara klaim pengangguran turun menjadi 215.000โmenandakan pasar tenaga kerja masih solid. Kombinasi ini memperbesar probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,75% untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga kredibilitas sistem penjaminan di tengah tekanan suku bunga dan nilai tukar rupiah. Kenaikan TBP ini berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan dan mengurangi likuiditas pasar saham dalam jangka pendek.
Pemerintah juga memastikan penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan masih sesuai jadwal pada awal Juli 2026. Instrumen utang ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pembiayaan dan memperluas akses pendanaan di pasar China. Meski demikian, sentimen jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian global.
Dengan data AS yang masih panas dan sikap The Fed yang cenderung hawkish, investor perlu mencermati potensi outflow dari pasar saham Indonesia. Apakah IHSG mampu bertahan di level psikologis 5.800 atau justru melanjutkan koreksi menuju 5.700-an? Jawabannya akan sangat tergantung pada data inflasi domestik dan kebijakan Bank Indonesia dalam beberapa pekan ke depan.



