Blue Bird Tebar Dividen Rp415 Miliar, Simak Jadwal Pembayaran
Baca dalam 60 detik
- PT Blue Bird Tbk (BIRD) mengalokasikan Rp415,35 miliar sebagai dividen tunai tahun buku 2025, setara Rp166 per saham.
- Kinerja keuangan yang solid—laba bersih Rp643 miliar dan pendapatan Rp5,7 triliun—menjadi dasar pembagian dividen ini.
- Pemegang saham yang tercatat pada 30 Juni 2026 berhak menerima dividen yang akan dibayarkan pada 10 Juli 2026.

PT Blue Bird Tbk (BIRD) memutuskan membagikan dividen tunai senilai Rp415,35 miliar untuk tahun buku 2025, atau setara Rp166 per saham, setelah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 18 Juni 2026.
Keputusan ini mencerminkan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. Emiten taksi pelat hitam itu mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp643 miliar, naik 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan bersih juga melesat 13% menjadi Rp5,7 triliun—angka tertinggi sejak perusahaan melantai di bursa pada 2014. Direktur Utama Adrianto Djokosoetono menegaskan bahwa inovasi dan perluasan kapasitas operasional menjadi motor pertumbuhan. Hingga akhir 2025, Blue Bird mengoperasikan lebih dari 26.000 armada yang tersebar di 58 pool, 1.300 outlet, dan melayani 22 kota di Indonesia.
Bagi investor, jadwal pembagian dividen menjadi informasi krusial. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 26 Juni 2026, sehingga investor yang membeli saham BIRD pada tanggal tersebut masih berhak atas dividen. Sehari setelahnya, 29 Juni 2026, menjadi ex dividen di pasar yang sama. Sementara itu, cum dividen untuk pasar tunai ditetapkan pada 30 Juni 2026, dengan ex dividen pada 1 Juli 2026. Tanggal daftar pemegang saham (recording date) adalah 30 Juni 2026 pukul 16.00 WIB, dan pembayaran dividen akan dilakukan pada 10 Juli 2026.
Kebijakan dividen ini menunjukkan komitmen Blue Bird untuk memberikan imbal hasil kepada pemegang saham di tengah persaingan industri transportasi yang kian ketat. Dengan maraknya layanan ride-hailing berbasis aplikasi, Blue Bird terus bertransformasi melalui digitalisasi dan pengembangan layanan taksi konvensional maupun premium. Pertumbuhan pendapatan dua digit mengindikasikan bahwa strategi tersebut mulai membuahkan hasil.
Bagi investor ritel Indonesia, momen ini bisa menjadi pertimbangan untuk masuk atau menambah posisi di saham BIRD. Namun, perlu dicermati bahwa harga saham pasca ex dividen biasanya mengalami penyesuaian. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Blue Bird mampu mempertahankan tren pertumbuhan laba di tengah tekanan biaya operasional dan perubahan preferensi konsumen?



