Naira Bertahan di Level N1.380 per Dolar, Volume Transaksi Antar Bank Melonjak 56%
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar naira relatif stabil di kisaran N1.380 per dolar AS di pasar resmi Nigeria, meskipun volume transaksi antar bank melonjak 56% menjadi $195,37 juta.
- Lonjakan transaksi menunjukkan peningkatan likuiditas di pasar valas resmi, namun tekanan terhadap naira masih terlihat dari rentang perdagangan harian yang melebar.
- Penurunan harga minyak mentah Brent ke level terendah sejak Februari berpotensi menambah tekanan pada cadangan devisa Nigeria dan nilai tukar naira ke depan.

Naira Nigeria bertahan di kisaran N1.380 per dolar Amerika Serikat di pasar valuta asing resmi, meskipun volume transaksi antar bank melonjak lebih dari setengahnya dalam sehari. Stabilitas semu ini terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang negara penghasil minyak tersebut.
Berdasarkan laporan harian Bank Sentral Nigeria (CBN), nilai tukar naira di Nigerian Foreign Exchange Market (NFEM) ditutup pada N1.380,1079 per dolar untuk transaksi internasional pada Kamis (27/6), naik tipis dari N1.380,0775 sehari sebelumnya. Pergerakan intraday menunjukkan naira bergerak antara N1.376 dan N1.390,5000, lebih lebar dibandingkan rentang hari sebelumnya yang hanya N1.368 hingga N1.392.
Yang menarik perhatian adalah lonjakan volume transaksi antar bank di jendela NFEM yang mencapai $195,371 juta, melonjak 56% dari $125,588 juta pada Rabu. Lonjakan ini mengindikasikan peningkatan aktivitas likuiditas di pasar resmi, namun belum cukup mendorong penguatan signifikan naira. Di pasar paralel, naira justru stagnan di level N1.388 per dolar, mencerminkan aktivitas perdagangan yang lesu di segmen informal.
Kondisi ini terjadi saat harga minyak mentah dunia terus merosot. Brent untuk pengiriman Agustus turun 1,5% menjadi $72,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah ke $69,58 per barel. Kedua kontrak tersebut berada di level terendah sejak 27 Februari lalu, bahkan Brent untuk Agustus diperdagangkan lebih murah dibandingkan kontrak September, menandakan pasokan jangka pendek yang melimpah.
Bagi Nigeria, penurunan harga minyak menjadi pukulan ganda. Sebagai negara pengekspor minyak mentah, pendapatan devisa yang menjadi bantalan cadangan naira ikut tertekan. Analis memperkirakan, jika tren penurunan harga minyak berlanjut, tekanan terhadap naira akan semakin berat, terutama jika CBN tidak segera menggelontorkan intervensi yang lebih agresif.
Di sisi lain, pasar derivatif dan spot valas mencatat kenaikan omzet sebesar 7,7% menjadi $2,32 miliar, menunjukkan bahwa pelaku pasar masih aktif melakukan lindung nilai di tengah ketidakpastian. Namun, pertanyaan besarnya adalah: akankah lonjakan volume transaksi ini mampu mendorong naira keluar dari zona nyaman N1.380, atau justru menjadi awal dari pelemahan lebih lanjut?



