Inflasi AS Kembali Panas, Bitcoin Terjun Bebas ke Level US$59.000
Baca dalam 60 detik
- Data inflasi PCE AS yang melonjak ke 4,1% tahunan memicu aksi jual aset berisiko, termasuk Bitcoin yang ambrol ke level terendah tahun ini.
- Lebih dari US$413 juta posisi derivatif Bitcoin dilikuidasi dalam 24 jam, sementara arus keluar ETF spot Bitcoin AS terus berlanjut selama tujuh pekan.
- Level US$59.000โ60.000 menjadi medan pertempuran krusial; tembus ke bawah US$59.000 berpotensi membawa koreksi lebih dalam, sementara tutup di atas US$61.800 bisa menjadi sinyal pemulihan jangka pendek.

Lonjakan inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi kembali mengguncang pasar kripto, mendorong harga Bitcoin (BTC) terperosok ke kisaran US$59.000 pada Kamis (25/6) โ level terendah dalam setahun terakhir. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis menunjukkan kenaikan 4,1% secara tahunan, tertinggi dalam tiga tahun, langsung mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap sikap bank sentral AS.
Laporan inflasi yang lebih panas dari perkiraan ini memicu aksi jual besar-besaran di seluruh aset berisiko. Pasar yang sebelumnya mengantisipasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat kini justru membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober mendatang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar AS langsung meroket, memaksa investor keluar dari posisi spekulatif termasuk kripto.
Bitcoin, yang selama ini kerap disebut sebagai lindung nilai inflasi, justru bergerak seperti aset berisiko makro lainnya โ sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga dan kekuatan dolar. "Bitcoin kini diperdagangkan sebagai aset makro, bukan lagi sebagai safe haven," ujar seorang analis pasar derivatif yang enggan disebutkan namanya.
Guncangan makro ini memicu peristiwa deleveraging yang brutal. Data menunjukkan lebih dari US$413 juta posisi derivatif Bitcoin dilikuidasi dalam sehari, sementara ETF spot Bitcoin di AS mencatatkan arus keluar neto selama tujuh pekan beruntun. Kombinasi aksi jual paksa dari pedagang yang kelebihan leverage dan eksodus institusi menciptakan lingkaran setan yang mempercepat penurunan harga.
Fenomena "long squeeze" turut memperparah situasi. Ketika harga mulai jatuh, para pemegang posisi beli dengan leverage terpaksa menjual aset mereka untuk memenuhi margin call, yang pada gilirannya mendorong harga semakin rendah. Indeks Coinbase Premium yang negatif menunjukkan lemahnya permintaan institusi AS, membuat likuiditas pasar menjadi tipis dan memperbesar volatilitas.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Bitcoin ini memiliki implikasi langsung. Meski perdagangan aset kripto di Indonesia diatur oleh Bappebti dan hanya diperbolehkan di bursa berjangka, volatilitas harga global tetap memengaruhi portofolio investor lokal. Banyak platform perdagangan kripto tanah air melaporkan peningkatan volume transaksi saat harga jatuh, menandakan aksi beli di harga rendah (buy the dip) masih diminati.
Namun, regulator Indonesia melalui Bappebti telah berulang kali mengingatkan risiko tinggi investasi aset kripto. "Investor harus sangat berhati-hati, karena volatilitas bisa sangat ekstrem dalam waktu singkat," kata seorang pejabat Bappebti dalam pernyataan sebelumnya.
Dari sisi teknikal, level US$59.000โ60.000 kini menjadi zona kritis. Analis menyebut area ini sebagai "medan pertempuran sesungguhnya" antara pembeli dan penjual. Jika harga mampu ditutup di atas US$61.800, ada kemungkinan terbentuknya dasar jangka pendek. Sebaliknya, penembusan ke bawah US$59.000 akan mengonfirmasi kelanjutan tren bearish.
Pertanyaan besarnya kini: akankah tekanan inflasi AS mereda dalam beberapa bulan ke depan, atau justru semakin memperkuat sikap hawkish The Fed? Jawabannya akan menentukan apakah Bitcoin mampu bertahan di level saat ini atau harus bersiap menghadapi koreksi yang lebih dalam.



