Karya Seni Kontroversial soal Churchill Ditarik, Pemicu Perdebatan Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Video instalasi Helen Cammock yang menyebut Churchill sengaja membuat rakyat India kelaparan ditarik dari National Portrait Gallery.
- Lebih dari 50 tokoh, termasuk cucu Churchill, menandatangani surat protes yang menyebut karya itu sebagai 'omelan ideologis'.
- Kasus ini memicu diskusi tentang batas kebebasan berekspresi seni versus penghormatan terhadap tokoh sejarah.

Sebuah instalasi video di National Portrait Gallery London ditarik dari pameran setelah memicu kontroversi terkait peran Winston Churchill dalam bencana kelaparan Benggala tahun 1943. Karya berjudul Persistence karya seniman peraih Turner Prize, Helen Cammock, menyebut Churchill bertanggung jawab atas 'kelaparan yang disengaja' terhadap penduduk India, sebuah klaim yang langsung menuai protes dari kalangan sejarawan dan keluarga mantan perdana menteri Inggris tersebut.
Video berdurasi 40 menit itu telah dipajang selama sepuluh bulan sebagai bagian dari pameran 'Artists First: Contemporary Perspectives on Portraiture'. Dalam narasinya, Cammock membandingkan kampanye militer Oliver Cromwell di Irlandia abad ke-17 dengan kebijakan Churchill saat kelaparan Benggala. Pernyataan ini sontak memicu surat terbuka dari Lord Roberts of Belgravia, seorang penulis biografi Churchill, yang ditandatangani oleh lebih dari 50 anggota majelis tinggi, termasuk Sir Nicholas Soames, cucu Churchill. Mereka menilai karya tersebut tidak akurat secara historis dan merupakan 'omelan yang bermotif ideologis'.
Pihak galeri awalnya membela karya tersebut sebagai refleksi pribadi seniman, namun akhirnya mengumumkan bahwa Cammock sendiri yang memutuskan untuk menariknya. Dalam pernyataannya, Cammock menegaskan bahwa karyanya bukanlah film dokumenter, melainkan karya seni yang mengajak penonton mempertanyakan siapa yang dihormati dan diabaikan dalam sejarah. Ia mengutip penyanyi Nina Simone: 'Tugas seorang seniman adalah mencerminkan zamannya,' yang terkadang berarti meninjau ulang dan menantang narasi yang ada.
Perdebatan tentang peran Churchill dalam kelaparan Benggala sebenarnya bukan hal baru. Sekitar tiga juta orang tewas di India timur pada 1943, namun para sejarawan masih terbelah soal sejauh mana tanggung jawab Churchill. Sebagian berpendapat bahwa kebijakan perang dan pengalihan pasokan pangan memperparah bencana, sementara yang lain, seperti Lord Roberts, menyebut penyebab utamanya adalah topan dan keterbatasan logistik perang. Churchill sendiri dikabarkan memerintahkan kabinet perang untuk melakukan segala upaya membantu korban, termasuk meminta bantuan gandum dari negara lain.
Kontroversi ini menyoroti ketegangan antara kebebasan berekspresi seni dan penghormatan terhadap figur sejarah. Bagi publik Indonesia, kasus ini relevan mengingat sejarah kelaparan juga pernah terjadi di Nusantara, seperti pada masa penjajahan Belanda. Pertanyaan tentang bagaimana seni dapat mengkritik tokoh sejarah tanpa dianggap menghina masih menjadi perdebatan hangat, terutama di era di mana identitas dan narasi sejarah kerap menjadi medan pertarungan politik.
Ke depan, insiden ini bisa menjadi preseden bagi institusi seni di Indonesia dalam menyikapi karya kontroversial. Apakah galeri dan museum akan lebih berani mempertahankan karya yang memicu perdebatan, atau justru cenderung menariknya demi menghindari konflik? Jawabannya mungkin akan menentukan iklim kebebasan berkesenian di masa mendatang.



