IPO Bach Multi Global: Djarum Siap Kantongi Rp307,5 Miliar, Ada Restrukturisasi Saham
Baca dalam 60 detik
- PT Bach Multi Global Tbk (BACH) akan melepas 615 juta saham baru dengan harga Rp400–Rp500 per unit, menargetkan dana segar hingga Rp307,5 miliar.
- Dana IPO sebagian besar digunakan untuk melunasi utang ke Bank Permata dan memperkuat modal kerja, seiring ekspansi bisnis genset dan infrastruktur telekomunikasi.
- Setelah pencatatan, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP)—anak usaha TOWR milik Djarum—berpotensi menjadi pengendali baru BACH melalui pembelian saham dari pemegang saham lama.

PT Bach Multi Global Tbk (BACH), perusahaan penyedia genset dan jasa konstruksi telekomunikasi yang berada di bawah bayang-bayang Grup Djarum, resmi melayangkan prospektus awal penawaran umum perdana saham (IPO). Emiten anyar ini menawarkan 615 juta lembar saham baru dengan rentang harga Rp400 hingga Rp500 per saham, yang berpotensi mengumpulkan dana segar maksimal Rp307,5 miliar.
Berdasarkan jadwal yang tertera dalam prospektus, masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 22–24 Juni 2026, sementara pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 7 Juli 2026. PT Erdikha Elit Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Langkah ini menjadi sinyal bahwa sektor penunjang infrastruktur digital dan kelistrikan masih menarik minat investor di tengah gairah pasar modal yang dinamis.
Dana hasil IPO akan dialokasikan untuk dua keperluan utama. Sekitar Rp91,02 miliar digunakan untuk membayar sebagian pinjaman kepada PT Bank Permata Tbk, sedangkan sisanya sebesar Rp213,48 miliar akan diserap sebagai modal kerja operasional dan pembayaran kepada pemasok. Strategi ini menunjukkan upaya perseroan dalam memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung pertumbuhan dua lini bisnis inti: penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
Yang menarik, IPO ini diiringi rencana restrukturisasi kepemilikan yang cukup signifikan. Sebelum IPO, PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) menguasai 61,55% saham BACH, sementara PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) memegang 30%. Setelah penawaran umum, porsi BMSI akan terdilusi menjadi sekitar 52,32% dan GTP menjadi 25,49%, dengan masyarakat memegang 15,06%. Namun, GTP telah menyatakan akan mengeksekusi hak opsi untuk membeli 1,04 miliar saham milik BMSI. Jika transaksi ini rampung, kepemilikan GTP melonjak menjadi 51%, menjadikannya pengendali baru, sementara BMSI turun ke 26,81%.
GTP sendiri merupakan anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang notabene dikendalikan oleh kelompok usaha Djarum. Langkah ini mempertegas ambisi Djarum dalam merajai sektor infrastruktur telekomunikasi dan energi cadangan di Indonesia. Bagi investor, IPO BACH menawarkan peluang untuk ikut serta dalam pertumbuhan dua sektor yang tengah didorong oleh percepatan digitalisasi dan kebutuhan pasokan listrik yang andal. Namun, perubahan struktur pengendali pasca-IPO perlu dicermati karena dapat mempengaruhi arah strategis perseroan ke depan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa agresif BACH akan berekspansi setelah dana IPO mengalir. Dengan beban utang yang berkurang dan modal kerja yang lebih longgar, perseroan berpotensi mempercepat proyek konstruksi menara telekomunikasi dan memperluas armada gensetnya. Apakah langkah ini cukup untuk memikat minat investor ritel di tengah persaingan emiten sejenis? Waktu yang akan menjawab, setidaknya hingga 7 Juli 2026 nanti.



