Stock Split 1:5, RAJA Targetkan Harga Saham Lebih Ramah Investor Ritel
Baca dalam 60 detik
- PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) akan memecah nilai nominal saham dengan rasio 1:5, menurunkan harga teoritis dari Rp3.870 menjadi sekitar Rp774 per saham.
- Langkah ini bertujuan meningkatkan likuiditas dan memperluas basis investor ritel yang selama ini kesulitan membeli lot saham RAJA yang bernilai hingga Rp387.000.
- RAJA akan meminta persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 23 Juni 2026 di Jakarta.

Emiten afiliasi konglomerat Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), berencana memecah nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5 untuk menekan harga saham yang dinilai terlalu tinggi bagi investor ritel. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan likuiditas perdagangan dan memperluas akses investor dengan modal terbatas.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah stock split nilai nominal saham RAJA akan turun dari Rp25 menjadi Rp5 per saham. Jumlah saham beredar pun akan membengkak lima kali lipat, dari 4,22 miliar menjadi 21,13 miliar saham. Manajemen menilai harga saham yang sempat menyentuh Rp4.170 pada 12 Mei 2026 membuat investasi minimum untuk satu lot (100 saham) mencapai Rp417.000, tidak terjangkau bagi sebagian investor ritel.
Pada penutupan perdagangan 18 Juni 2026, saham RAJA berada di level Rp3.870 per saham, sehingga nilai satu lot sekitar Rp387.000. Secara teoritis, setelah stock split harga saham akan turun menjadi sekitar Rp774, dan investasi minimum satu lot hanya Rp77.400. Angka ini jauh lebih rendah dari rentang harga saham RAJA sepanjang 2026 yang bergerak antara Rp2.800 hingga Rp8.500 per saham.
Manajemen RAJA menyatakan bahwa pemecahan saham ini merupakan respons terhadap keterbatasan investor ritel yang memiliki dana terbatas. "Dengan harga saham yang tinggi, investor kecil sulit membeli saham Perseroan. Stock split diharapkan meningkatkan jumlah investor dan likuiditas," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, Selasa (23/6/2026).
Bagi investor Indonesia, aksi korporasi ini membuka peluang lebih luas untuk memiliki saham emiten yang bergerak di sektor properti dan infrastruktur. RAJA dikenal sebagai salah satu saham dengan kapitalisasi pasar besar di BEI, dan langkah ini bisa menjadi katalis positif bagi minat investor ritel yang selama ini menunggu harga lebih terjangkau.
Namun, perlu dicatat bahwa stock split tidak mengubah fundamental perusahaan secara langsung. Harga saham pasca-split bisa mengalami tekanan jual jika investor memanfaatkan momen untuk merealisasikan keuntungan. Analis menyarankan investor tetap mencermati kinerja keuangan RAJA, terutama setelah ekspansi bisnis yang agresif dalam beberapa tahun terakhir.
RAJA akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026 di Hotel Mulia, Jakarta Pusat. Jika disetujui, jadwal pelaksanaan stock split akan diumumkan kemudian. Pertanyaan yang mengemuka: akankah langkah ini cukup untuk mendongkrak minat investor ritel di tengah volatilitas pasar modal Indonesia?



