Asing Net Sell Rp1,12 Triliun, Tapi Diam-Diam Borong Saham Tambang
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp1,12 triliun di seluruh pasar saham Indonesia pada Senin (22/6/2026), namun tetap mengakumulasi saham sektor tambang, komoditas, dan energi.
- Nilai beli asing mencapai Rp4,76 triliun, sementara nilai jual Rp5,88 triliun, menunjukkan aktivitas perdagangan yang masih tinggi di tengah pelemahan IHSG.
- Aksi borong saham tambang mengindikasikan keyakinan asing terhadap prospek komoditas jangka panjang, meski tekanan jangka pendek masih membayangi pasar.

Di tengah aksi jual bersih (net sell) investor asing yang menembus Rp1,12 triliun pada perdagangan Senin (22/6/2026), aliran modal asing justru deras masuk ke saham-saham sektor pertambangan, komoditas, dan energi. Fenomena ini menandai strategi selektif asing yang tetap optimistis pada sektor riil berbasis sumber daya alam, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke zona merah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai pembelian asing pada hari itu mencapai Rp4,76 triliun, sementara nilai penjualan asing tercatat Rp5,88 triliun. Artinya, di balik net sell yang besar, asing masih aktif melakukan transaksi dengan volume tinggi. Saham-saham tambang seperti emas, batu bara, dan nikel menjadi incaran utama, mencerminkan ekspektasi harga komoditas yang masih menguntungkan di tengah ketidakpastian global.
IHSG sendiri ditutup anjlok 0,98% ke level 6.116,69, setelah bergerak di rentang 6.052,94 hingga 6.226,72. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen eksternal seperti kekhawatiran suku bunga acuan AS yang masih tinggi dan perlambatan ekonomi China. Namun, aksi borong asing di sektor tambang menunjukkan adanya keyakinan bahwa fundamental komoditas Indonesia tetap solid dalam jangka menengah.
Bagi investor Indonesia, pola ini mengirim sinyal bahwa asing masih melihat nilai tambah pada saham-saham berbasis komoditas, terutama di tengah tren harga nikel dan batu bara yang masih tinggi akibat permintaan dari sektor energi hijau dan industri baja. Namun, risiko volatilitas jangka pendek tetap perlu diwaspadai, mengingat net sell yang besar juga bisa menekan likuiditas pasar secara keseluruhan.
Analis pasar modal menilai bahwa aksi beli asing di sektor tambang merupakan bentuk rotasi portofolio, di mana asing melepas saham sektor lain yang dianggap kurang prospektif untuk mengumpulkan saham tambang. "Ini bukan sekadar aksi spekulatif, melainkan langkah strategis mengantisipasi kenaikan harga komoditas yang didorong oleh pemulihan permintaan global," ujar seorang analis dari salah satu sekuritas asing di Jakarta.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat tergantung pada perkembangan suku bunga global dan kebijakan ekonomi China. Jika harga komoditas tetap bertahan, bukan tidak mungkin asing akan terus menambah posisi di saham tambang Indonesia. Pertanyaan besarnya, apakah investor domestik akan mengikuti jejak asing atau justru memanfaatkan momentum untuk merealisasikan keuntungan?



