Pejuang Kemerdekaan Timor Leste, Francisco Guterres, Tutup Usia di Kuala Lumpur
Baca dalam 60 detik
- Mantan Presiden Timor Leste Francisco Guterres meninggal dunia di usia 71 tahun di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur.
- Guterres, yang dikenal dengan nama perang 'Lu Olo', merupakan tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste dari pendudukan Indonesia.
- Kepergiannya meninggalkan warisan perjuangan demokrasi dan persatuan nasional yang terus dikenang oleh rakyat Timor Leste dan kawasan.

Francisco Guterres, mantan presiden Timor Leste yang juga ikon perlawanan terhadap pendudukan Indonesia, meninggal dunia pada Minggu (23/6) di Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur, Malaysia. Ia berusia 71 tahun dan telah menjalani perawatan intensif sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh pihak keluarga melalui akun Facebook resmi mendiang. Hingga berita ini diturunkan, penyebab kematian belum diungkap secara resmi. Guterres, yang akrab disapa dengan nama perang "Lu Olo", meninggalkan istri, Cidalia Lopes Nobre Mouzinho Guterres, dan anak-anak mereka.
Perjalanan politik Guterres dimulai sejak masa muda di bawah bayang-bayang kolonialisme Portugis dan pendudukan Indonesia. Lahir di Ossu, Distrik Viqueque, pada 7 September 1954, ia bergabung dengan Fretilin, partai yang memimpin perlawanan bersenjata. Perannya krusial dalam transisi menuju kemerdekaan setelah referendum yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1999.
Guterres kemudian menjabat sebagai Presiden Majelis Konstituante pada 2001, mengawasi penyusunan konstitusi Timor Leste. Setelah kemerdekaan resmi pada 2002, ia menjadi ketua parlemen pertama. Ambisinya untuk memimpin negara membuahkan hasil pada 2017 ketika ia terpilih sebagai presiden, meski hanya satu periode setelah kalah dari Jose Ramos-Horta pada pemilu 2022.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menyampaikan belasungkawa melalui pesan resmi. "Sepanjang hidupnya, ia berkomitmen pada kebebasan rakyatnya dan pembangunan bangsa yang demokratis," ujar Anwar. Fretilin, partai yang lama dipimpin Guterres, menyebut kepergiannya sebagai "kehilangan mendalam" bagi semua yang memperjuangkan negara yang bebas, demokratis, dan berdaulat.
Bagi Indonesia, figur Guterres memiliki signifikansi historis. Sebagai pejuang kemerdekaan yang pernah berseberangan dengan Jakarta, ia kemudian menjadi simbol rekonsiliasi dan stabilitas di kawasan. Hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste pasca-referendum terus membaik, dan Guterres memainkan peran dalam menjaga perdamaian di perbatasan. Kepergiannya menjadi pengingat akan masa lalu yang kelam sekaligus harapan akan masa depan yang lebih erat.
Warisan Guterres tidak hanya terletak pada jabatan politik, tetapi pada dedikasinya terhadap persatuan nasional dan dialog. Di tengah tantangan demokrasi muda Timor Leste, sosoknya dianggap sebagai jembatan antar faksi. Pertanyaan kini mengemuka: siapa yang akan meneruskan semangat perjuangan dan rekonsiliasi yang ia tanamkan?



