Korupsi di Sektor Pertahanan China: Pejabat Senior Antariksa Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Wakil Kepala SASTIND sekaligus Deputi CNSA, Bian Zhigang, resmi diusut atas dugaan korupsi berat oleh Komisi Inspeksi Disiplin Pusat China.
- Bian adalah tokoh kunci kerja sama luar angkasa internasional China, termasuk misi Chang'e dan forum di Rusia, yang kini namanya dihapus dari situs resmi.
- Kasus ini merupakan bagian dari gelombang pembersihan di sektor pertahanan dan antariksa China, dengan sejumlah pejabat tinggi sebelumnya telah dijatuhi hukuman berat.

Komisi Pemberantasan Korupsi tertinggi China, Central Commission for Discipline Inspection (CCDI), kembali memperluas operasi pembersihan di sektor pertahanan dan antariksa. Kali ini, Bian Zhigang, Wakil Kepala State Administration of Science, Technology and Industry for National Defence (SASTIND) yang juga menjabat Deputi Direktur China National Space Administration (CNSA), resmi ditetapkan sebagai tersangka pelanggaran disiplin dan hukum berat pada Rabu (24/6).
Pengumuman itu langsung diikuti dengan penghapusan profil Bian dari berbagai laman resmi pemerintah. Langkah ini lazim dilakukan Beijing ketika seorang pejabat tinggi tengah diusut, menandakan bahwa kasusnya telah memasuki tahap serius. Bian, yang menghabiskan hampir seluruh kariernya di SASTIND, baru diangkat sebagai wakil kepala pada Februari 2024. Penyelidikan terhadapnya berlangsung saat ia masih menjabat, menunjukkan betapa cepatnya proses hukum berjalan di bawah rezim antikorupsi Presiden Xi Jinping.
Bian dikenal sebagai figur sentral dalam diplomasi antariksa China. Dalam kapasitasnya sebagai Deputi CNSA, ia kerap tampil di forum internasional untuk mempromosikan kerja sama eksplorasi bulan dan luar angkasa. Penampilan terakhirnya di dalam negeri adalah pada 18 Mei dalam sebuah rapat SASTIND, namun nama dan kehadirannya segera diedit dari unggahan media sosial setelah penyelidikan diumumkan. Hilangnya Bian dari panggung internasional dipastikan akan memengaruhi citra China sebagai mitra andal di sektor antariksa, terutama di tengah persaingan dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Pembersihan di sektor pertahanan China tidak berhenti di Bian. Sebelumnya, Tan Ruisong, mantan Ketua sekaligus Sekretaris Partai Aviation Industry Corp of China (AVIC)—perusahaan pelat merah pembuat pesawat tempur—dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan pada Maret 2024. Tan terbukti mengumpulkan lebih dari 700 juta yuan (sekitar Rp1,5 triliun) melalui suap, penggelapan, dan perdagangan orang dalam. Sementara itu, Ma Xingrui, mantan komandan program luar angkasa berawak China, kini juga tengah diadili. Rangkaian kasus ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun pejabat, sekaliber apa pun, yang kebal dari jerat antikorupsi Beijing.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. China selama ini menjadi mitra penting dalam kerja sama antariksa dan pertahanan, termasuk melalui proyek satelit dan pelatihan astronot. Namun, ketidakstabilan internal di tubuh CNSA dan SASTIND dapat memperlambat proyek-proyek bersama yang melibatkan Indonesia, seperti rencana peluncuran satelit observasi bumi atau program riset antariksa. Selain itu, pembersihan besar-besaran di sektor pertahanan China juga menimbulkan pertanyaan soal tata kelola perusahaan-perusahaan pertahanan yang menjadi pemasok utama bagi beberapa negara Asia Tenggara.
Ke depan, publik akan mengamati apakah Bian akan dijatuhi hukuman serupa dengan Tan Ruisong atau Zhang Jianhua. Yang jelas, langkah CCDI kali ini kembali menegaskan bahwa kampanye antikorupsi Xi Jinping tidak pandang bulu—bahkan terhadap pejabat yang menjadi 'wajah' kerja sama luar angkasa China sekalipun. Pertanyaan besarnya: sejauh mana pembersihan ini akan memengaruhi posisi China dalam perlombaan antariksa global yang semakin ketat?



