Merek Tas China Naik Daun: Songmont, Grotto, dan Dissona Siap Saingi Rumah Mode Eropa
Baca dalam 60 detik
- Merek tas asal China seperti Songmont, Grotto, dan Dissona berhasil merebut perhatian global berpadu desain kontemporer, kualitas setara Eropa, dan harga terjangkau.
- Platform media sosial seperti Xiaohongshu, Douyin, dan TikTok menjadi katalis utama popularitas mereka di kalangan konsumen muda dan sadar gaya.
- Pertumbuhan merek ini mengindikasikan pergeseran persepsi terhadap label 'Made in China' dari produk massal menjadi simbol kualitas dan inovasi desain.

Merek tas asal China kini tak lagi dipandang sebelah mata. Songmont, Grotto, Dissona, Amazing Song, dan Truuzen—lima label yang lahir dari semangat desain orisinal dan pengerjaan teliti—berhasil memikat pasar global, termasuk Indonesia, dengan menawarkan alternatif segar di tengah dominasi rumah mode Eropa.
Fenomena ini tidak lepas dari meningkatnya minat wisatawan mancanegara terhadap produk-produk lokal China, yang didorong oleh promosi masif di platform seperti Xiaohongshu (RedNote), Douyin, dan TikTok. Video haul dan styling yang menonjolkan material premium, fitur fungsional, serta harga yang lebih ramah kantong membuat merek-merek ini mudah ditemukan dan diingat oleh konsumen di berbagai negara.
Bagi pembaca di Indonesia, tren ini membuka peluang baru. Pasar tas lokal yang selama ini didominasi produk impor Eropa mulai melirik alternatif dari China yang menawarkan kualitas setara dengan harga lebih terjangkau. Kehadiran merek seperti Songmont dan Truuzen di platform e-commerce lintas batas juga memudahkan konsumen Tanah Air untuk mendapatkannya tanpa harus bepergian ke luar negeri.
Songmont, yang didirikan di Beijing, menjadi contoh bagaimana latar belakang teknologi dapat melahirkan pendekatan desain yang fungsional namun elegan. Alih-alih mengejar tren musiman, Songmont fokus pada siluet abadi dan fungsionalitas. Dukungan selebritas seperti aktris Zhang Jingyi dan aktor Jiang Qiming—yang ditunjuk sebagai duta merek pada 2025—semakin memperkuat posisinya di mata konsumen pria dan wanita.
Sementara itu, Amazing Song yang didirikan tiga bersaudara—Nina, Charlotte, dan Abigail—menawarkan palet warna ceria dan siluet serbaguna. Dengan nama yang terinspirasi dari himne "Amazing Grace", merek ini menekankan cinta, keahlian, dan desain bermakna. Daftar penggemar selebritasnya termasuk Chen Duling dan Ma Sichun, yang kerap terlihat membawa tas Amazing Song dalam berbagai kesempatan.
Dissona, sebagai salah satu merek tertua, membuktikan bahwa warisan dan inovasi bisa berjalan beriringan. Setelah merekrut Thomas Maurice, mantan pengrajin Hermes, pada 2010, kualitas produknya melonjak. Tampil di Milan Fashion Week pada 2017 menjadi tonggak sejarah yang mengukuhkan Dissona sebagai pemain serius di kancah internasional. Kini, koleksinya mencakup tas top-handle, tote, dan carryall monogram yang memadukan kepraktisan dengan kilau mewah.
Grotto, dengan moto "Born For Freedom", menawarkan estetika gender-netral yang berani. Desain pahatan, konstruksi kulit lembut, dan detail utilitarian menjadi ciri khasnya. Proses produksi yang panjang—mulai dari pembuatan pola hingga penyelesaian akhir—serta penggunaan kulit dari Tuscany menunjukkan komitmen terhadap kualitas. Penggemar setianya termasuk Angelababy, mantan bintang K-pop Amber Liu, dan gitaris Jepang Miyavi.
Truuzen, meski lebih muda (berdiri 2015), telah membangun reputasi melalui kesederhanaan yang canggih. Sebagai salah satu pelopor penggunaan kulit vegetable-tanned di China, Truuzen menawarkan produk yang semakin berkarakter seiring waktu. Kolaborasi dengan supermodel Ming Xi dan aktris Song Jia memperkuat citra minimalisnya. Keberhasilan komersialnya—menempati posisi ketiga penjualan tas di Tmall—menunjukkan bahwa pasar merespons positif pendekatan ini.
Pertanyaan selanjutnya: apakah merek-merek ini mampu mempertahankan momentum dan benar-benar menggeser posisi rumah mode Eropa di hati konsumen Indonesia? Ataukah ini hanya gelombang sementara yang akan surut ketika tren berganti?



