Jepang Rekrut Sopir Truk Asal Vietnam untuk Atasi Krisis Tenaga Kerja Logistik
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan logistik Jepang mulai merekrut pengemudi asing, terutama dari Vietnam, untuk mengantisipasi kekurangan sopir akibat populasi yang menua.
- Yamato Holdings berencana mempekerjakan 500 sopir Vietnam dalam lima tahun, sementara SBS Holdings menargetkan 30% tenaga pengemudinya adalah warga asing.
- Fenomena ini mengindikasikan perubahan besar dalam industri logistik global yang juga relevan bagi Indonesia yang menghadapi tantangan serupa.

Di tengah hiruk-pikuk pelatihan di pangkalan Nakano Shokai di Atsugi, Kanagawa, tiga pria Vietnam berusia 20-30an tengah menguasai teknik mengemudi truk. Mereka adalah bagian dari gelombang baru tenaga kerja asing yang direkrut Jepang untuk menjaga denyut nadi logistik negeri Sakura. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa krisis pengemudi yang mengintai telah mendorong perubahan kebijakan ketenagakerjaan yang signifikan.
Ketiga pria tersebut tiba di Jepang pada akhir Januari lalu dan mendapat status izin tinggal lima tahun melalui program Specified Skilled Worker (SSW). Mereka telah memiliki SIM Jepang dan kini mempelajari aturan lalu lintas serta budaya setempat. Rencananya, pada akhir 2026 mereka akan mulai bertugas mengangkut barang antarperusahaan menggunakan truk ukuran sedang di wilayah Kanto. Nakano Shokai, anak perusahaan Yamato Holdings—induk dari Yamato Transport yang mempekerjakan sekitar 700 sopir—memang belum mengalami kekurangan pengemudi saat ini. Namun, direktur pelaksana Yusuke Takada mengungkapkan urgensi yang kuat: “Tanpa merekrut pengemudi asing, kapasitas transportasi kami pasti akan menurun di masa depan.”
Mulai 2027, Yamato Holdings berencana merekrut hingga 500 sopir Vietnam dalam lima tahun. SBS Holdings, raksasa logistik lainnya, bahkan menargetkan 30% dari total pengemudinya—sekitar 1.800 orang—berasal dari tenaga asing dalam satu dekade. Tren ini menyebar cepat di seluruh industri logistik Jepang. Menurut Survei Angkatan Kerja Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi, jumlah pengemudi angkutan barang darat stagnan, sementara proporsi pengemudi berusia 50 tahun ke atas terus naik mencapai 47% pada 2025. Hanya 1% pengemudi berusia remaja dan 10% berusia 20-an, memperkuat kekhawatiran bahwa gelombang pensiun akan memperparah kekurangan tenaga kerja.
Di sisi lain, volume paket terus membengkak seiring maraknya belanja daring. Pada tahun fiskal 2024, tercatat 5,03 miliar paket, dan beberapa perkiraan menyebut angka itu akan melampaui enam miliar pada 2030. Seorang sumber industri mengungkapkan, jika paket yang dikirim melalui jaringan pengiriman milik pengecer daring ikut dihitung, totalnya sudah melebihi enam miliar. Tekanan operasional di lapangan pun kian terasa. Logistik, sebagai infrastruktur vital penopang ekonomi dan masyarakat, mulai mendorong terbentuknya kemitraan publik-swasta untuk mengatasi krisis yang membayang.
Fenomena ini menjadi cermin bagi Indonesia. Dengan populasi pengemudi logistik yang juga menua dan pertumbuhan e-commerce yang pesat, Indonesia berpotensi mengalami masalah serupa. Data Asosiasi Logistik Indonesia menunjukkan bahwa usia rata-rata sopir truk di atas 40 tahun, sementara minat generasi muda terhadap profesi ini rendah. Jika tidak ada langkah antisipatif, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengimpor tenaga pengemudi asing dalam beberapa tahun ke depan. Pertanyaannya, apakah kebijakan ketenagakerjaan dan pelatihan di Indonesia siap menghadapi tantangan ini?



