Belanja Bebas Bea di Jepang Melonjak, China Justru Menyusut
Baca dalam 60 detik
- Penjualan bebas bea di department store Jepang pada Mei 2026 menembus 49,66 miliar yen, naik 16,7% secara tahunan berkat pelemahan yen dan kenaikan harga barang mewah.
- Meski total transaksi meningkat, jumlah wisatawan China yang berbelanja anjlok 30% akibat ketegangan diplomatik terkait pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi soal Taiwan.
- Kenaikan pasar saham dan efek kekayaan mendorong belanja domestik Jepang naik 7,4%, menandai tren konsumsi yang bergeser ke barang premium.

Penjualan bebas bea di department store Jepang pada Mei 2026 mencatat rekor kenaikan 16,7% secara tahunan menjadi sekitar 49,66 miliar yen (setara 300 juta dolar AS), didorong oleh pelemahan yen yang terus berlanjut dan lonjakan harga barang mewah. Data dari Japan Department Stores Association menunjukkan bahwa ini adalah bulan ketiga berturut-turut pertumbuhan positif, meskipun jumlah pengunjung toko bebas bea justru menurun 6,3% menjadi 503.000 orang — penurunan ketujuh kalinya secara beruntun.
Fenomena ini mengindikasikan pergeseran pola belanja wisatawan: mereka yang datang cenderung membelanjakan lebih banyak per kunjungan, terutama untuk produk-produk premium seperti perhiasan, jam tangan, dan barang mode kelas atas. Namun, di balik angka positif tersebut, terdapat kontras tajam antara wisatawan dari berbagai negara. Wisatawan dari Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura mencatat lonjakan signifikan baik dari sisi nilai transaksi maupun jumlah pembeli. Sebaliknya, jumlah wisatawan China yang berbelanja anjlok sekitar 30% pada bulan laporan.
Penurunan drastis wisatawan China tidak lepas dari memburuknya hubungan diplomatik Tokyo-Beijing. Ketegangan dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di parlemen pada November 2025 yang menyebut bahwa serangan China terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang, yang berpotensi memicu respons Pasukan Bela Diri Jepang bersama Amerika Serikat. Meskipun demikian, asosiasi mencatat bahwa secara keseluruhan penjualan kepada pengunjung China masih menunjukkan pemulihan, dengan penurunan terbatas sekitar 5% jika dihitung dari total nilai transaksi.
Di sisi lain, belanja domestik Jepang justru menunjukkan kekuatan. Penjualan department store di luar segmen bebas bea meningkat 7,4% pada Mei, menandai bulan kesepuluh pertumbuhan beruntun. Kenaikan ini didukung oleh efek kalender yang lebih menguntungkan serta penguatan pasar saham yang mendorong efek kekayaan. Seorang pejabat asosiasi mengungkapkan bahwa masyarakat cenderung lebih berani membelanjakan uang ketika nilai aset mereka bertambah, dan dampak psikologis dari kenaikan harga saham sangat signifikan. Barang-barang mewah seperti perhiasan dan jam tangan menjadi primadona, sejalan dengan tren konsumen yang beralih ke produk bernilai tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Secara keseluruhan, total penjualan di 172 toko yang dioperasikan oleh 68 perusahaan mencapai 468,39 miliar yen, tumbuh 8,3% secara tahunan — kelima kalinya berturut-turut mencatat pertumbuhan. Angka ini mengonfirmasi bahwa konsumen Jepang, baik lokal maupun mancanegara, tetap optimis meskipun ada tekanan geopolitik dan fluktuasi mata uang.
Bagi Indonesia, tren ini memberikan gambaran tentang bagaimana pelemahan mata uang dapat mendorong sektor ritel dan pariwisata, namun juga menunjukkan kerentanan terhadap dinamika politik bilateral. Dengan yen yang terus melemah, Jepang menjadi destinasi belanja yang semakin menarik bagi wisatawan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, ketegangan diplomatik seperti yang terjadi antara Jepang dan China mengingatkan bahwa faktor non-ekonomi dapat secara tiba-tiba mengubah peta persaingan pariwisata regional. Pertanyaannya, apakah Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk menarik lebih banyak wisatawan Jepang atau justru harus waspada terhadap potensi dampak rambatan jika ketegangan serupa terjadi di kawasan?



