Efek Menonton Sepak Bola pada Tubuh: Antara Stres Sehat dan Risiko Jantung
Baca dalam 60 detik
- Eksperimen terhadap penggemar Inggris menunjukkan menonton pertandingan memicu respons stres akut, seperti peningkatan denyut jantung dan hormon kortisol.
- Bagi individu sehat, respons ini menyerupai olahraga ringan dan bersifat sementara, namun bagi penderita penyakit jantung atau otak, risiko serangan jantung atau pingsan meningkat.
- Di Indonesia, antusiasme tinggi terhadap sepak bola perlu diimbangi kesadaran akan batas fisik, terutama bagi penggemar dengan kondisi kesehatan tertentu.

Menonton pertandingan sepak bola, terutama saat tim kesayangan bertanding, bukan sekadar hiburan—ia memicu gelombang reaksi fisiologis yang nyata. Sebuah eksperimen yang melibatkan penggemar Inggris selama laga pembuka Piala Dunia melawan Kroasia mengungkap bahwa tubuh bereaksi seolah-olah sedang menghadapi ancaman, lengkap dengan lonjakan denyut jantung, tekanan darah, dan hormon stres. Namun, para peneliti menegaskan bahwa efek ini tidak selalu buruk; bagi sebagian orang, ia justru menyerupai latihan fisik ringan.
Dalam pengujian yang dilakukan oleh Profesor Damian Bailey dan mahasiswa doktoralnya Danny Walmsley dari University of South Wales, seorang sukarelawan dipasangi alat pemantau di sebuah pub di Bristol. Alat tersebut merekam detak jantung, tekanan darah, aliran darah ke otak, dan kadar kortisol dari air liur. Hasilnya, saat Harry Kane mencetak gol penalti, denyut jantung sang partisipan melonjak dari 54 menjadi 69 denyut per menit dalam hitungan detik. Tekanan darah juga naik, sementara kadar karbon dioksida yang dihembuskan menurun—tanda hiperventilasi ringan yang mengurangi aliran darah ke otak.
Menurut Bailey, respons ini adalah bentuk "stres baik" (eustress) yang secara evolusioner dirancang untuk menjaga kita tetap waspada. "Aktivasi sistem fight-or-flight ini mirip dengan olahraga ringan, hanya saja tanpa pembakaran kalori," ujarnya. Namun, ia memperingatkan bahwa tidak semua orang memiliki respons yang sama. Individu dengan kondisi jantung atau pembuluh darah yang sudah lemah bisa mengalami lonjakan denyut jantung hingga 50–60 denyut per menit, yang dalam kasus ekstrem dapat memicu serangan jantung atau stroke. "Darah bisa mengental seperti madu, pembuluh darah menyempit, dan tekanan melonjak," jelas Bailey.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana sepak bola memiliki basis penggemar yang sangat besar dan emosional. Saat tim nasional bertanding, banyak suporter menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, sering kali ditemani makanan tinggi garam dan minuman beralkohol. Kombinasi stres psikologis dan pola makan tidak sehat dapat memperburuk risiko kardiovaskular. Dokter jantung di Indonesia telah lama mengingatkan bahwa euforia atau kekecewaan berlebihan saat menonton bola bisa memicu kejadian jantung mendadak, terutama pada mereka yang memiliki riwayat hipertensi atau penyakit jantung koroner yang tidak terdeteksi.
Bailey menekankan bahwa kunci utama adalah kebugaran fisik. Partisipan dalam eksperimennya memiliki respons stres yang rendah karena rutin berolahraga dan menjaga berat badan ideal. "Anda seperti pasukan khusus—sangat tenang," pujinya. Namun, bagi penggemar yang kurang aktif atau memiliki faktor risiko, disarankan untuk tidak menonton pertandingan sendirian, menghindari konsumsi alkohol berlebihan, dan mengambil jeda sejenak saat pertandingan memasuki momen krusial. "Jika Anda sudah memiliki kondisi jantung, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum larut dalam emosi pertandingan," tambahnya.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana durasi dan intensitas menonton memengaruhi kesehatan jangka panjang. Apakah efek "stres baik" ini dapat menumpuk dan memberikan manfaat serupa olahraga, atau justru menjadi beban kronis? Yang jelas, bagi penggemar sepak bola Indonesia, kesadaran akan batas fisik adalah investasi kesehatan yang tak kalah penting dari dukungan kepada tim kesayangan.



