Paparan Stres Panas Ekstrem Global Melonjak, Satu Miliar Orang Terdampak Baru
Baca dalam 60 detik
- Studi Nature Climate Change mengungkap proporsi populasi global yang mengalami suhu terasa di atas 46°C naik dari 16% pada 1970-an menjadi 22% pada 2024.
- Eropa Selatan mencatat kenaikan suhu terasa hingga 5°C lebih panas dibanding 50 tahun lalu, sementara wilayah subtropis seperti Inggris dan Skandinavia mulai merasakan stres panas ekstrem.
- Malam tropis tanpa penurunan suhu di bawah 20°C semakin sering terjadi di sebagian besar dunia, memperburuk risiko kesehatan bagi kelompok rentan.

Paparan global terhadap stres panas berbahaya meningkat drastis dalam setengah abad terakhir, didorong oleh perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Climate Change pada Senin (22/6) mencatat bahwa pada 2024, sekitar 22% populasi dunia mengalami setidaknya satu hari dengan suhu terasa ekstrem—setara atau di atas 46 derajat Celsius—melonjak dari 16% pada era 1970-an. Lonjakan ini berarti tambahan hampir satu miliar orang yang kini terpapar kondisi mematikan yang sebelumnya tidak mereka alami.
Penelitian yang dipimpin Rebecca Emerton dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts ini menggunakan Universal Thermal Climate Index (UTCI), indeks yang mengukur suhu “terasa” dengan memperhitungkan kelembapan, angin, radiasi, serta respons fisiologis tubuh manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi, intensitas, dan durasi kejadian stres panas meningkat secara konsisten di seluruh benua. “Di setiap benua, stres panas kuat hingga ekstrem kini lebih sering terjadi,” ujar Emerton kepada AFP.
Kenaikan paling tajam terjadi di kawasan Eropa Selatan. Negara seperti Spanyol, Portugal, Italia, dan Prancis kini mengalami suhu terasa hingga lima derajat lebih panas dibandingkan 1970-an. Dampak mematikannya sudah terlihat: di Prancis, dua anak dilaporkan tewas akibat gelombang panas yang melanda negara itu pada awal pekan ini. Emerton menambahkan bahwa stres panas juga meluas ke wilayah yang secara historis tidak pernah mengalaminya, seperti sebagian Amerika Utara, Inggris, dan Skandinavia, di mana suhu terasa 38°C kini tercatat.
Fenomena lain yang mengkhawatirkan adalah meningkatnya jumlah malam tropis—saat suhu terasa tidak pernah turun di bawah 20°C. Menurut Emerton, malam yang tidak memberikan kesejukan sama sekali membuat tubuh tidak punya kesempatan memulihkan diri, terutama bagi lansia, anak-anak, dan penderita penyakit kronis. “Saat Anda tidak bisa mendapatkan kelegaan dan tubuh tidak bisa mendingin, itu menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya. Studi ini hanya mencakup data hingga 2024, namun gelombang panas yang melanda Eropa pada awal musim panas 2025 mengindikasikan tren tersebut terus berlanjut.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan serius. Meskipun studi berfokus pada belahan bumi utara, pola peningkatan suhu dan kelembapan ekstrem juga terasa di kawasan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tren kenaikan suhu rata-rata dan peningkatan frekuensi gelombang panas di beberapa wilayah Indonesia dalam satu dekade terakhir. Tanpa langkah adaptasi yang masif—seperti sistem peringatan dini, penyediaan ruang publik berpendingin, dan edukasi tentang heatstroke—risiko kematian akibat stres panas di Indonesia bisa meningkat seiring menguatnya efek pemanasan global.
Ke depan, pertanyaan krusial yang harus dijawab adalah: seberapa cepat negara-negara tropis seperti Indonesia dapat membangun ketahanan terhadap ancaman yang tidak kasatmata ini? Tanpa aksi iklim yang lebih agresif, lonjakan satu miliar orang yang terpapar stres panas kemungkinan hanya permulaan dari krisis kesehatan global yang lebih luas.



