Wall Street Tertekan: Saham Teknologi dan SpaceX Anjlok, Investor Incar Data Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah pada Senin (10/3) dipicu aksi jual saham teknologi besar seperti Alphabet, Amazon, dan SpaceX yang turun hingga 10%.
- Kekhawatiran pasar tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini, yang bisa mempengaruhi sikap Federal Reserve terhadap suku bunga.
- Pasar Asia justru mencatat penguatan signifikan, dengan Nikkei Jepang menembus rekor 72.000, menunjukkan divergensi sentimen global.

Bursa saham Amerika Serikat memulai pekan dengan nada negatif pada Senin (10/3) setelah saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dan perusahaan antariksa SpaceX mengalami tekanan jual yang cukup dalam, di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data inflasi yang akan menjadi acuan bagi langkah Federal Reserve selanjutnya.
Indeks S&P 500 terkoreksi 0,3 persen, sementara Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi merosot lebih tajam hingga 1,1 persen. Namun, Dow Jones Industrial Average justru mencatat kenaikan 144 poin atau 0,3 persen, ditopang oleh lonjakan saham Caterpillar yang melesat 3 persen. Kondisi ini menggambarkan pergerakan sektoral yang tidak merata, di mana saham siklikal dan industri masih diminati, sementara saham teknologi menjadi beban utama.
Alphabet, induk perusahaan Google, menjadi salah satu pemberat terbesar setelah sahamnya ambles 6 persen. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terkait gelombang hengkangnya talenta di divisi kecerdasan buatan (AI) perusahaan. Amazon dan Meta Platforms masing-masing turun 4,6 persen dan 2 persen, sementara Microsoft kehilangan 3,2 persen. SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mencatat penurunan paling dramatis dengan anjlok 10 persen, menandai hari ketiga berturut-turut kerugian.
Di sisi lain, sektor semikonduktor justru menunjukkan kinerja positif. Micron Technology melonjak 5 persen menjelang laporan keuangan kuartalannya yang dijadwalkan rilis pada Rabu (12/3). Advanced Micro Devices (AMD) naik 1 persen, dan Intel menguat 4 persen. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa investor masih membedakan prospek masing-masing emiten di tengah gejolak pasar.
Pasar Asia justru bergerak di jalur berbeda. Nikkei 225 Jepang melesat 2 persen dan menembus rekor baru di atas level 72.000, sementara Kospi Korea Selatan naik 1,2 persen. Sentimen positif di Asia menunjukkan bahwa kekhawatiran yang membebani Wall Street belum sepenuhnya merambah kawasan tersebut. "Pasar Asia sepertinya tidak menerima memo yang sama tentang kehati-hatian," demikian analisis yang beredar di kalangan trader.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Wall Street ini menjadi sinyal waspada. Pelemahan saham teknologi AS berpotensi mempengaruhi arus modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Jika data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan moneter oleh The Fed bisa kembali menguat, yang berimbas pada penguatan dolar AS dan pelemahan rupiah. Investor domestik disarankan untuk mencermati rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Selasa (11/3) dan data inflasi produsen (PPI) pada hari berikutnya.
Ke depan, pasar masih dihadapkan pada dua kekuatan yang saling tarik: momentum kuat di sektor teknologi dan AI di satu sisi, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga di sisi lain. Akankah data inflasi pekan ini memberikan kejelasan yang dibutuhkan investor, atau justru menambah tekanan baru?



