Harga Minyak Jatuh ke Level Terendah, Tanker Mulai Tinggalkan Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI terus merosot mendekati level sebelum konflik, setelah kapal tanker mulai meninggalkan Selat Hormuz menyusul kesepakatan gencatan senjata.
- Menteri Energi AS menyebut arus minyak melalui selat tersebut hampir pulih normal, meski proses demining masih memakan waktu beberapa pekan.
- Kesepakatan awal membuka negosiasi 60 hari terkait program nuklir Iran, namun optimisme pasar tetap terjaga meski ada ketidakpastian jangka panjang.

Harga minyak mentah dunia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (25/6), mendekati level sebelum pecahnya perang di Timur Tengah, setelah puluhan kapal tanker mulai meninggalkan Selat Hormuz menyusul kesepakatan awal penghentian konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasokan yang sempat melonjakkan harga.
Brent untuk pengiriman Agustus turun 40 sen (0,54%) menjadi 73,34 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 27 sen (0,38%) ke 70,07 dolar AS per barel. Menariknya, kontrak Brent Agustus diperdagangkan lebih rendah dibandingkan September yang berada di 73,59 dolar AS, mengindikasikan pasokan jangka pendek yang melimpah.
Analis IG, Tony Sycamore, menilai laju penurunan ini mengejutkan banyak pihak. "Pasar memperhitungkan kembalinya pasokan minyak Timur Tengah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan hanya dua pekan lalu," tulisnya dalam catatan riset. Pada Rabu, Brent sudah ambles lebih dari 3 dolar AS, diikuti WTI yang turun hampir 3 dolar AS.
Menteri Energi AS, Chris Wright, mengungkapkan dalam sebuah forum bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hampir kembali seperti sebelum perang dimulai pada 28 Februari lalu. "Setidaknya 20 juta barel telah keluar dari selat dalam 24 jam terakhir," katanya. Namun, ia memperingatkan bahwa pemulihan total membutuhkan waktu beberapa pekan karena selat tersebut masih harus dibersihkan dari ranjau.
Kesepakatan awal pekan lalu membuka jalan bagi negosiasi 60 hari untuk membahas isu-isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Wright optimistis minyak akan terus mengalir meski kesepakatan gagal, dan Iran tidak akan mampu menutup selat itu lagi. Sementara itu, Oman pada Rabu membuka rute sementara untuk memperlancar keberangkatan kapal tanker, dengan koordinasi antara Organisasi Maritim Internasional dan otoritas Oman. Perdana Menteri Qatar juga mengunjungi Oman untuk membahas negosiasi pengelolaan selat di masa depan dengan Iran, Irak, dan negara-negara Teluk.
Bagi Indonesia, penurunan harga minyak ini menjadi angin segar di tengah tekanan anggaran subsidi energi. Pemerintah Indonesia mengimpor sekitar 40% kebutuhan minyak mentahnya, sehingga setiap penurunan harga berpotensi meredakan beban APBN. Namun, volatilitas geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi risiko yang harus diantisipasi, terutama jika negosiasi nuklir Iran gagal dan konflik kembali memanas.
Di sisi lain, data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun ke level terendah sejak 1984, didorong oleh permintaan kilang yang kuat dan pelepasan cadangan darurat. Namun, pasar tampak tidak terpengaruh karena fokus utama tetap pada perkembangan di Selat Hormuz.
Pertanyaan besarnya kini: akankah gencatan senjata ini bertahan hingga negosiasi nuklir selesai, atau justru menjadi jeda singkat sebelum ketegangan baru muncul? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan.



