Ghosn: Seruan Kembali ke Nissan Bukti Kemarahan Investor atas Kinerja Buruk
Baca dalam 60 detik
- Mantan Chairman Nissan Carlos Ghosn menilai dukungan sebagian pemegang saham untuk kembalinya dia mencerminkan frustrasi mendalam atas kegagalan tiga CEO berturut-turut membalikkan penurunan perusahaan.
- Dalam wawancara dengan Reuters, Ghosn menyoroti anjloknya harga saham Nissan hingga 80% sejak 2018 dan penurunan penjualan tahunan dari 5 juta menjadi sekitar 3 juta unit sebagai bukti mismanajemen.
- Ghosn memperingatkan bahwa tanpa perubahan drastis, Nissan berisiko menjadi afiliasi kecil perusahaan China, mengulangi skenario krisis sebelum bailout Renault 1999 namun dengan prospek lebih suram.

Seruan sebagian pemegang saham Nissan agar Carlos Ghosn kembali memimpin perusahaan bukanlah nostalgia belaka, melainkan cerminan kemarahan investor terhadap kinerja buruk yang terus berlanjut sejak kepergiannya pada 2018. Ghosn, yang kini tinggal di Lebanon setelah melarikan diri dari Jepang, menegaskan bahwa tiga CEO yang menggantikannya gagal membalikkan keadaan.
Dalam wawancara dengan Reuters, Ghosn menyebut proposal yang muncul dalam rapat umum pemegang saham Nissan pekan lalu sebagai reaksi yang masuk akal. "Anda bisa merasakan kemarahan dan frustrasi pemegang saham," ujarnya. Meski usulan itu ditolak mayoritas pemegang saham yang tetap mendukung dewan direksi, Ghosn menilai hal itu menunjukkan keputusasaan investor terhadap arah perusahaan.
Sejak 2018, harga saham Nissan telah merosot 80%, penjualan tahunan turun dari lebih dari 5 juta kendaraan menjadi sekitar 3 juta unit, dan perusahaan terpaksa menutup pabrik serta melakukan pemutusan hubungan kerja. Ghosn menyebut fakta-fakta itu sebagai bukti kegagalan manajemen. "Lihat faktanya; mereka suram," katanya.
Namun, tidak semua pihak setuju dengan analisis Ghosn. Analis Macquarie, James Hong, menilai proposal pemegang saham itu lebih didorong nostalgia daripada kalkulasi ekonomi yang realistis. "Mereka hanya merindukan masa kejayaan Nissan," katanya. Hong menambahkan bahwa industri otomotif telah berubah drastis sejak era Ghosn, yang oleh banyak analis dinilai terlalu fokus pada volume penjualan ketimbang profitabilitas.
CEO Nissan saat ini, Ivan Espinosa, mengambil pendekatan berbeda dengan mengutamakan nilai per kendaraan meski menjual lebih sedikit mobil. Perusahaan mengklaim telah membuat kemajuan dalam rencana turnaround-nya, mencatat laba operasional pada tahun fiskal terakhir, dan masih memiliki likuiditas yang kuat. Namun, Ghosn menilai strategi itu terlalu defensif dan lamban dalam pengambilan keputusan.
Bagi Indonesia, dinamika di Nissan relevan mengingat posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama di pasar otomotif nasional. Nissan Indonesia telah mengalami penurunan pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir, dan arah kebijakan global perusahaan akan berdampak langsung pada model yang ditawarkan serta investasi di dalam negeri. Jika Nissan terus melemah, bukan tidak mungkin merek ini akan semakin terpinggirkan di tengah persaingan ketat dari pabrikan Jepang lainnya dan agresivitas merek China.
Ghosn memperingatkan bahwa tanpa perubahan radikal, Nissan berisiko menjadi afiliasi kecil dari perusahaan China. Ia membandingkan situasi saat ini dengan krisis sebelum bailout Renault pada 1999, "tetapi dengan harapan yang lebih kecil." Meski mengakui bahwa dirinya adalah profil yang tepat untuk menyelamatkan perusahaan, Ghosn menegaskan bahwa jabatan CEO adalah satu-satunya posisi yang bisa membuat perubahan. "Sudah ada keadaan darurat di Nissan, dan keputusan sulit harus diambil," ujarnya.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Espinosa membuktikan bahwa pendekatan berbeda bisa membawa hasil, atau justru sejarah akan membenarkan kekhawatiran Ghosn bahwa Nissan sedang menuju jurang kehancuran?



